Tentang Lelaki Berengsek yang tak bisa di Daur Ulang
Sore ini adalah hujan pertama setelah kemarau
panjang terlalui, debu-debu jalanan yang berterbangan kini terendap air
genangan, rumput-rumput yang layu kini nampak segar, pemandagan sore yang indah
tapi tidak dengan kisah cintaku. Seperti hujan aku menunggumu, menunggu penjelasanmu. Awalnya aku tidak
berencana mencintaimu, tapi kenyamanan membuatku terjerat dalam kisah cintanta
bersamamu. Tapi aku masih belum mengerti apa maksud ending dari kisah ini
terlalu memuakkan untukku.
Sebenarnya selama berhubungan dengan Ray terjalan
sangat sehat, jauh dari kata toxic relationship. Kamu yang sudah menyukaiku
begitu lama, begitupun aku lambat laun mulai menyukaimu. Kita saling berbagi cerita
entah tentang cerita bahagi, cerita sedih atau hanya sekedar cerita omong
kosong yang membuat kita tertawa. Namun siring berjalannya waktu aku merasa
sangat terintimidasi dalam hubungan ini. Iya aku tahu Ray begitu menyukaiku,
harus berkabr setiap saat, minta pap dimanapun aku berada, jangan telat bales
membalas pesan, aku begitu risih dengan hal itu, tapi masih termaklumi dan aku
mencoba membicarakan baik-baik. Kalau semua hal itu tidak benar memang kita
butuh komunikasi bukan hanya antalogi kata. Tapi bukankah yang terlalu
berlebihan itu ytidah baik? Apaagi mengenai hal seperti itu, sangat terkesan
Ray tiidak mempercayaiku, tidak mempercayai perasaan tulusku. Memang pada
awalnya ku sempat berterus terang kalu aku tidak menyukai Ray, tapi Ray juga
tahu perasaanku telah berubah, sekarang rasaku berubah, aku menyukainya dan
ketika aku memutuskan untuk menyayanginya sudah pasti rasaku itu tulus. Setalah kami membicarakan hal itu, Ray
akhirnya mengerti. Tetapi satu Minggu kemudian dia melakukan hal yang sama.
“Byy kamu ke rumah ya aku pengen kamu cuci
sepatuku, aku mau pergi futsal besok” kalimat Ray di telpon.
Aku tersenyum dan hatiku berkata “dasar anak
bayiiiikk” lalu aku menjawab “ Okay bayii besarku nanti aku kesana ya byeee”
akau tutup telppon nya.
Waktu menunjukan jam 9 pagi, aku bergegas ke
rumah Ray untuk mencucukan sepatu futsal nya karana kallau agak siangan takut
gak keburu kering. Setelah kami makan siang bersama, aku pamit pulang karna ada
tugas yang aku selesaikan. Belum sampai 10 menit aku mengerjakan tugas dia
sudah menelpon dan minta ditemenin ditelpon katanya karna sedang gabut kau
sudah menjelaskan bahwa deadline ny nanti malam tapi dia maksa untuk telponan
sama dia, yaudah aku ngalah semoga tugasnya masih bisa dikerjain nanti. Setelah
itu aku kebablasan hingga waktu mengerjakan tugas tersisa satu jam lagi, tanpa
basa basi begitu aku teringat ada deadline aku langsung menutup telponnya dan
aku keteteran sangat stress sekali mana tugasnya lumayan sulit.
Aku melalu hubungan itu sekitar satu bulan
kemudian berakhir karna dia ketahuan selingkuh lalu menghilang tanpa kabar. Setelah
hubungan ini berakhir aku langsung tersadar kalau hubungan kami dapat dikatakan
toxic relationship, terutama untuk untu ini sangat menyusahkan sekali, aku yang
jarang terbebas dengan duniaku dan harus selalu mengbungi dia kalau teringat
sekarang itu begitu menyesakkan. Dia membawa dampak buruk bagi kehidupanku. Terlebih
kisah ini berakhir dengann sangat memuakkan, tanpa basa-basi dia pergi. Lalu bagaimana
denganku? Kamu harus bertanggungjawab atas senyumku. Setidaknya kamu harus
meminta maaaf kepadaku atas hubungan toxic ini, atas persilingkuhanmu, kenapa
kamu begitu tak tahu diri pergi dengan rasa tak bersalah. Lelaki berengsek
sepertimu bahkan tidak bisa di daur ulang, kamu yang pertama memancing rasaku,
hahhhhh mungkin kamu pemain tapi bukan mainan Rayyyyyy.
Aku seperti bermimpi panjang tentang hal buruk
yang terasa samar setelah aku bangun ketika fajar sedang menyinngsing, bunga
mawar didepan kamarku yang sedang berseri seolah menaptaku dan berkata
“ Kamu akan baik-baik saja, cobalah untuk
bersyukur karna Tuhan memperlihat begitu cepat lelalki macam apa Ray itu,
hubungan juga tidak sehat, akhirnya sekarang kamu terlepas dari hal buruk”.
Mataku berkaca-kaca yang nyaris tak terlihat
karna sudah begitu benkak dikarnakan nagis semalaman.
“terimakasih bungaku sudah memainkan peran dikala
dihidupku sedang hancur-hancurnya”
#NgabubuwriteWithPenulisGarut
Comments
Post a Comment