"Please Say Goodbye" Part 2
Selepas hujan
turun, selepas dia pergi, aku benar-benar merasa sendiri dan membeku. Tak
disangka aku sebegitu mudah menaruh
hati. Kini aku terhanyut didalam keyakinan yang menurutku terlihat semu, tetapi
hatiku memaksa untuk tetap berada didalamnya. Baik!
Melihat
genangan air hujan dari jendela kamar, aku termenung...
Dan
benar dia tidak mengabariku, aku mulai meragukan keyakinanku apakah benar atau
hanya akan sia-sia. Setelah aku mulai
mencoba tidak begitu peduli, dia mengabariku. Entah kenapa aku melemas mungkin
karna terlalu khawatir.
“ Bagaimana kabarmu, sehat?”
Aku tidak menjawab.
“Apa kamu baik-baik saja?”
Aku tidak menjawab.
“Bagaimana hari-harimu, bukankah
menyenangkan?”.
Aku masih diam.
“ Kenapa? Ada apa. Hm?”.
Akupun menjawabnya.
“Aku merindukanmu, sungguh”. Diiringi dengan tangisan.
“Bagaimana kabarmu, apa kamu
baik-baik saja disana?, Apa makanmu baik?, Apa istirahatmu cukup? Kenapa tidak
menjawab? Aku sangat khawatir, aku begitu kebingungan apa yang harus aku
lakukan agar dapat menghubungimu, aku hanya bisa berdo’a untukmu agar tetap
sehat”. Nangisku semakin menjadi.
“Baik, menangislah dulu, silahkan
luapkan dulu kekesalanmu aku memang lelaki buruk. Eh tangisanmu indah sekali, beneran deh
seperti air hujan, eh eh sudah cukup nangisnya nanti banjir”. Hehe
“ Kamu tuh ya”.
“Hehe, udah baikan?”.
“Iya”.
“ Oke aku menjawab pertanyaanmu,
Kabarku baik, sebenarnya aku tidak baik-baik saja disini, aku ingin segera
pulang dan
menemuimu.....................................................................................................
Aku
benar-benar bangga dia makhluk hibring bagiku. Dia dinas diluar kota dan
ditugaskan diperbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya di provinsi Kalimantan
Utara. Disana memang daerah terpencil dengan kondisi yang belantara tanpa ada
saluran komuniaksi telepon seluler, tak bisa ku bayangkan untuk
mendapatkan sinyal dia harus bejalan
berkilo-kilo meter dan membeli paket internet ataupun pulsa dengan harga yang
sangat mahal hanya untuk bisa menghubungiku dan keluarga. Lalu dia dan
rekan-rekannya akhirn ya berhasil merakit sinyal, iya membuat sinyal agar dapat
menghubungi orang-orang yang disayang, alhamdulillah. Setelah itu, dia tidak
terasa seperti menghilang lagi, karena setidaknya ketika luang dia dapat
menghubungiku.
Cerita
berlanjut sampai dia pulang dari tugasnya, kembali kepandanganku. Tidak hanya sekedar
pulang saja, dia berencana melamarku Minggu depan. Bahagia bukan? Tentu saja J. Hingga tiba saatnya
acara lamaran pun berlangsung dengan khidmat. Keesokan harinya, kabar pilu pun tiba-tiba
datang, ada tugas mendadak kayak tahu bulat dia harus berangkat ke Papua,
menyebalkan.
“Baru saja kembali dan harus
pergi lagi dan lagi dan rasa sabar mana lagi yang harus kulakukan, tapi
bukankah dia pun merasakan hal yang
sama, jangan egois aku harus memahaminya, aku harus mendukungnya” lirihku
didalam hati. Waktu pemberangkatan
tersisa seminggu lagi, sedangkan aku sedang sibuk dengan bimbingan proposal
tapi dia dengan sabar membantuku meskipun bukan ranahnya tapi dia bilang
gakpapa sebisa mungkin lalu dia membantu mengerjakan, baik terimakasih. Entah
kenapa badanku terasa sangat lemas, pandanganku hilang dan aku pun pingsan dikampus, dia langsung membawaku
ke rumah sakit dan menghubungi mama ku untuk memberitahukan kondisiku. Dokter
mengniagnosa aku sakit anemia dan memutuskan untuk dirawat terlebih dahulu. Akupun
dipindahkan ke ruang inap, mama dan adikku pun datang, dia banyak bertanya, aku
masih lemas untuk berbicara, ku tengok Reza diapun langsung mengerti dan
menjawab semua pertanyaan mama.
Hari
ini, hari Senin adikku akan melaksanakan
TO di sekolah dasar, mama terpaksa harus pulang dan menitipkanku ke Reza. Dia
begitu sangat baik merawatku dan berusaha menghiburku.
“ Ra tahu gak, kucing apa yang
gak pernah salah?”. Tanya nya
“Emmmmm apa ya..... kucing yang gk pernah mencuri”
jawabku.
“ Bukan, kucing gak wrong”
sambil pasang muka lucuk mengangkat-ngangkat alis, yaampun.haha
Aku tertawa sedikit karna masih
terasa lemas “Ada-ada aja kamu”. Jam menunjukkan tepat pukul 12.00 aku rasa aku
ingin minum jus sirsak kayaknya enak, aku pun berbicara sama Reza kalau aku
ingin jus sirsak, dengan semangat dia pergi keluar untuk membeli jus, tidak
lama setelah Reza keluar hujan deraspun turun. Seperti kilat, dia sudah kembali
dengan basah kuyup, duh kasian sekali anak orang, untung dia bawa baju ganti.
“Silahkan tuan Putri, diminum
jasnya, eh jusnya” dengan memberikan
senyuman yang paling manis sealam semesta.
“Terimakasih pangeran baik hatiku”
jawabku sambil tertawa.
Reza langsung pergi ke kamar
mandi dan bertanya terlebih dahaulu,
“ Ini baju kotormu?” tanyanya.
Aku hanya mengangguk, lalu
kembali menonton tv, ku tengok lagi dia membawa baju kotorku.
“Eh eh eh eh eh ngapain dibawa?”
tanyaku, tapi tak dijawab dia malah menutup pintu kamar mandinya. “Dasar
bapak-bapak” cetusku.
Setelah
dia beres mandi dan membawa cucian, ku tatap sambil menggeleng-gelengkan kepala
“ Pak pak, bapak mau ngejemur yak?”. Dia hanya membalasnya dengan senyuman. Malam
harinya mama nelpon gak bisa datang ke rs karena hujan deras, papa sedang tugas
gak ada dirumah. Aku jawab gakpapa,
meskipun kecewa. Reza menenangkanku
gakpapa ada aku disini, katanya. Iya jawabku. Eh btw, proposalku masih belum
direvisi gimana ya? Aku bicara sendiri, sebenarnya itu hanya kode sih, wkwk. Dan
syukurnya, dia peka yaudah mana aku kerjain, tapi kamu kasih petunjuknya aku
harus gimana, katanya. Siap bos, jawabku. Aku menjelaskan kepadanya apa saja
yang harus diperbaiki, terus kasih tahu
sumber-sumber materi dan jurnal-jurnalnya, diapun mengerti dan mulai
mengerjakan, sementara aku disuruh menonton tv yang pada akhirnya ketiduran. Aku
terbangun ketika jam menunjukkan
pukul 03.00, mataku langsung tertuju
kepada Reza yang mungkin ketiduran juga saat mengerjakan revisianku, terlihat
banyak kertas berhamburan berisi coretan-coretan lalu dia terdampar dikarpet
dengan laptop yang masih terbuka disampingnya, aku tertawa dan merasa berdosa.
Hangatnya
mentari menyentuh tubuhku, aku pulang. Reza membawa barang-barang ke mobil sementara
mama mengagandengku berjalan. Sesampainya dirumah aku merasa kembali ke
kehidupan sebenarnya, benar-benar gak betah berada di rs dengan baunya yang
khas itu lho. Mama berterima kasih kepada Reza karna sudah membantu menjagaku,
Rezapun berpamitan pulang. Jedela
kamarku memang mengarah ke senja, iya tepatnya tempat menikmati senja. Sore ini
langit senja sangat indah, membuatku begitu takjub, masyaalloh. Akan tetapi,
pada akhirnya sang kepekatan menelannya, Selamat malam.
Pernahkah
kita merasa bersedih? Sekarang aku sedang merasa, aku tahu setiap tugasnya
mengancam nyawanya. Sekarang waktunya dia berangkat ke Papua, kali ini lebih
lama, kali ini juga aku lebih khawatir. Hatiku bersedih ketika dia berpamitan,
do’aku menyertaimu , selamat tinggal.
Dua
bulan berlalu setelah keberangkatannya, tap aku masih belum menerima kabar, aku
berusaha untuk tidak nethink, dan tetap berasabar. Sepulang dari kampus, aku
berjalan menuju rumah, ku tengok ke kanan, ku tengok kiri dan aku tersandung.
“Aduh kenapa ini?” tanyaku
sendiri.
Dino teman Reza menghampiriku, “kamu
kenapa?” tanyanya sambil membangunkanku.
“Aku tersandung”. Dino tidak
terpilih untuk menjalankan misi di Papua, makanya dia ada disini.
“Eh kamu tahu, bagimana kabar Reza?”.
“Baru aku mau mengasih tahu, sebenarnya
ini masih kabar burunng sih tapi aku harus memberitahumu kalau pasukan Reza banyak
yang tewas tapi belum dipastikan bagaimana keaadaan Reza”.
Apa maksudnya semua ini? Hatiku berantakan,
tidak lama dari itu, mama Reza menelpon bahwa Reza telah meninggal saat
menjalankan tugasnya di Papua. Aku menangis senangis-nangisnya sampai
tersedu-sedu dan Dino berusaha menenangkan dan mengantarku ke rumah. Tangisku
masih belum usai, mama juga terlihat berkaca-kaca turut berduka tapi dia tetap tegar
dan mencoba meredakan tangisku. Raga Reza yang sudah tak bernyawa tiba dirumahnya,
tiga hari setelah mendapatkan kabar. Aku tidak menangis ketika melayat ibu dan
keluarganya, berjalanpun seperti melayang, merasa sadar dan tidak sadar ketika
melihat Reza ditelan bumi, ku taburkan bunga dan berdo’a.
Hey
semesta! sekarang dia pulang tanpa nyawa, sekarang dia benar-benar luput dari
pandangan dan berubah menjadi kenangan, aku tak percaya semua ini bisa terjadi
dalam kisahku dan itu mengecewakkan. Tapi aku akan tetap berterimakasih,
termakasih telah memberitahuku bahwa dia orang baik nan hebat, terimakasih
telah bersinggah, terimakasih telah meluangkan waktu untuk menyayangiku, selamat
tinggal untuk selamanya.

Comments
Post a Comment