Mas Crush
Menitip rasa pada yang tak merasa
tapi tak mengapa aku tidak berharap terbalas cukup menyukainya dalam diam,
bahagia ketika melihatnya, rindu ketika tak bersua, indahnya cinta sendirian
yang tak banyak berharap lebih, mungkin ini definisi menyukaimu secara
sukarela. Aku tidak akan mengatakan yang sebenarnya, biarkan takdir yang
berbicara. Meskipun aku tidak menunjukannya tapi percayalah kamu telah memiliki
hatiku seutuhnya.
Berawal dari keadaan yang mengharuskan
jari jemari kita saling bertautan karena takut aku terjatuh hingga berlangsung beberapa
jam dan berakhir dengan aku malah jatuh hati padamu. Jangan salahkan rasa, kita
tidak bisa memilihh kepada siapa kita jatuh hati, itu terjadi begitu saja
bahkan tanpa kita sadari.
Dalam sebuah perjalan kami saling
berboncengan, seperti biasa kami hanya mengobrol hal biasa. Aku membuka obrolan
“ Kamu pernah mencukur kumis?”
kataku iseng
“Pernah dong” Jawabnya
“ Lalu gimana? Tumbuh lagi gak? Tambah
banyak apa enggak rambutnya? Tanyaku.
“ Iya jadi tambahnya, tadinya aku
gak mau mencukur kumis biar jadi cowok berkumis tipis, tapi karna ada jerawat
di kumisku terus bekas jerawatnya gk tumbuh lagi rambutnya, akhirnya dicukur
deh”
“Hahaha berkumis tipis kasian jadi
akhirnya kek o mom ya kumisnya banyak?” padahal dalam hatiku pengen bilang “Gakpapa
mau kumis tipis atau enggak kamu tetap gantengku” wkwk
“emmm kamu mah, kenapa tanya
begituan?” tanyanya
“ tadinya aku pengen cukur kumisku
karna keliatannya panjang sebelah jelek banget”
“Ih jangan nanti jadi tambah banyak nanti
kek cowok gimana hayoo?
“ okay deh okay deh” jawabku.
Angin malam menyentuh wajahku dengan
sangat lembut, berlaju dengan kecepatan 30 km/jam agar dapat lebih menikmati
situasi perjalanan. Kami memang teman dekat tapi gak tahu aku punya rasa lebih
dari itu, tapi aku juga masih bisa mengontrol diri biarkan jalani saja. Karna
memang mengenai rasa, aku tidak terlalu ambis mungkin karna menurutku itu
sesuatu yang kompleks aku lebih percaya dengan sebuah takdir “jika itu ditakdirkan untukmu itu tidak akan
melewatkanmu begitupun sebaliknya”. Jadi ya sudah treat dia sebagai teman
seperti biasa, persoalan rasa biarkan hatiku yang mengurusnya.
Dua tahun sudah kita hidup terpisah
karna focus mengejar masing-maasing, hingga akhirnya dia mengirim surat
undangan pernikahan, tentu saja dia mengundangku jelas kita teman dekat. Melihat
surat udangan yang tercatum nama kedua mempelai Alvino vinsenzo & Nalara
Larasati, emm ternyata pada akhirnya bukan aku yang bersamanya. Aku izin cuti dari pekerjaan dan esok pagi
aku akan berangkat pulang ke rumah.
Suasa pedasaan yang sangat
dirindukan, apalagi suasa kala dulu yang sekarang sudah banyak berubah. Aku melewati
gang rumahmu dan itu megetarkan hatiku. Sesampainya dirumah mama be like
“ De gak nyangka Alvi nikah sama
orang lain ya”. Alih-alih bertanya kabarku mama langsung bilang kek gitu haha. Iya
mama emang paling tahu aku menyukainya aku
suka cerita iseng sambil becanda tapi tetap menegaskan kalau kita Cuma teman
hanya saja mungkin cara bercerita gesture dan mata ku tak bisa berbohong.
“ Ahhhh mama kok langsung bicara
gitu, biarkan aku duduk, minum, mandi makan, tidur dulu baru bicara gitu”
jawabku sambil tertawa kecil. Di sisi lain sebenarnya aku tak apa tapi disisi
lain aku juga merasa kek berlagak sok tegar tapi hatiku sedikit rapuh, emmm ahh
padahal belum sempat jadian tapi kok sedikit sakit hati hahaha
Keesokan harinya aku pergi ke
pernikahan Alvi, sedihnya aku pergi sendiri karna bener gak punya diusia yang
cukup dewasa ini, ketika sudah sampai di
pelaminan aku berjalan perlahan tersenyum dikit-dikit melihat orang-orang
sepedesaan yang aku kenal , dan pas aku dateng banyak banget tmau undangan nya,
mengantri ketika mau salaman dengan pengantin lalu ketika tiba giliranku ada
teman-temanya yang sudah beres difoto bersaa jadi agak rebut, eh tiba-tiba dia
megang bahu ku, aku terkejut lalu berkata “sebenarnya aku meyukaimu” aku
langsung berbalik dan mengerutkan keningku.
Comments
Post a Comment