Cerpen " Naluri Januari"


Naluri Januari
Pernah aku melirih sampai akhir pagi, tapi untuk sekarang itu bodoh.
Hangatnya mentari pagi sampai merasuk hati, berjanji sampai diingkari, menanti sampai enggan pergi, berhari-hari tak berhenti, intuisi berkata sadarlah.
“bruggggg” suara kardus terjatuh menghaburkan lamunanku. Aku turun melewati anak tangga, ku lihat ada kucing hitam dimeja.
“hmm ternyata kau pelakunya, hussss pergi”. Eh ternyata si kucing hanya dianggap iklan, ku kembali kelamunan yang tadi, perlahan menaiki anak tangga lalu duduk kembali diatap rumah untuk maratap.  Hingga tiba saatnya bukan lagi hangat yang terasa tetapi sengatan panas dari sang mentari menyentuhku.
Hari demi hari kulalui dengan rasa penyelasan. Kini aku menjadi sangat kusut,  kata mama. Banyak pertanyaan yang terlontarkan dari sang bidadari, mama. Tapi aku tak bisa berkata, aku menjawabnya dengan telepati semoga mama mengerti, so damn. Beberapa hari kemudian teman baikku datang ke rumah mengajak jalan keluar.
“aku pergi ma” bersaliman lalu berlalu. Sekarang sudah Desember tapi musim masih kemarau. Debu dijalanan berlalu lalang membuatku tak nyaman meski memakai masker, beruntung Jessy yang mengendarai motornya aku bisa berlindung dipunggungnya hehe. Belum sampai situ, kini kita terjebak macet. Baiklah jangan menggerutu, mari kita lalui saja wkwk.
Terlihat hamparan rumput hijau menyegarkan mata, ditambah angin sepoi-sepoi yang menenangkan fikir. Teman ku  yang satu ini memang paling bisa diandalkan, makasi lho. Kami berbincang tentang impian bukan masalah rasa yang  sedang hancur. Sangat menyenangkan... kadang kita memang butuh bincangan sederhana untuk menenangkan jiwa. Sesekali kita tertawa kemudian meminum seduhan ekspresso yang dibeli di perjalanan.
Dua sisi yang aku rasakan tentang bagaimana pada sisi tertentu aku cukup merasa muak untuk bertahan memikirkan tentang perlakuannya terhadapku dan disisi lainnya aku memang sudah sayang sampai terhanyut dengan hebat. Aku bertanya tentang bagaimana pendapat Jesiie mengenai hal tersebut. Jessie tak banyak bicara dia hanya bilang ikuti kata hatimu, kamu yang paling tahu mana yang terbaik untukmu. Sebagian orang mungkin menyangka itu kalimat terlalu singkat terkesan cuek atau bahkan tak peduli. That isn’t true, guys! Bagiku itu kata-kata yang paling menguatkan, dia tidak mempengaruhi berbuat apa yang dipikirkannya, kadang kita terjebak dengan perkataan teman padahal itu bukan apa yang kita rasakan, meskipun tidak semuanya seperti itu sih but mereka hanya ingin berusaha membantumu. Hanya saja kamu harus renungkan kembali pertimbangkanlah dengan perasaanmu, iya jadi begitu.
Sudah 1 bulan aku lost kontek dengan dia, tidak berucap apapun tapi aku mengerti, masing-masing kita perlu merenungkan kemudian meluruskan masalah ini. Perlahan-lahan aku memperbaiki perspektif ku terhadapnya, okay sekarang aku merasa  jauh lebih baik. Sebentar lagi acara wisudaan, aku tak berharap banyak hanya ingin melihat raut bangga diwajah mama. Tibalah hari bahagia ini pada Kamis manis, aku berangkat ke kampus lain dari biasanya karna sekarang bersama keluargaku. Acara wisuda pun berlangsung haru, bahagia dan sedih terlebih pada mereka yang telah kehilangan ayah atau ibunya bahkan keduanya. Setelah selesai sidang, aku menemui teman-temanku yang sengaja datang ikut serta bahagia dalam kelulusanku, aku banyak mengucapkan terimakasih karna untaian do’a begitu indah mereka berikan. Terlihat sosok pria memperhatikan dari kejauhan, setelah teman-temanku satu persatu berlalu pamit, kemudian pria itu menghampiriku. Aku tersenyum, ternyata dia tidak melewatkan moment bahagia dihidupku. Dia menemuiku dan membawa bucket bunga mawar putih. Ada yang lain dimatanya, tapi aku tak begitu memperdulikannya, aku bahagia itu saja. Langit kini tersapu kabut, matahari pun ikut meredup. Lalu dia berucap selamat dan mendo’akan kemudian diakhiri meminta maaf. Aku mengerti mungkin sekarang dia sadar dia telah mengabaikanku selama itu. Ternytaa bukan seperti yang diterka dia berkata tak terduga.
“ aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf. pekan lalu aku bertemu dengan mantanku yang sangat aku sayangi. Iya benar tepat saat aku benar-benar mengabaikanmu. Aku akui aku leleki buruk yang telah mempermainkan perasaanmu, tapi aku sangat menyayanginya” sambil menunjuk ke perempuan yang sedang duduk dibalkon.
Aku menoleh ke arah yang dia tunjukan, aku benar-benar terhentak lalu aku menatapnya dengan rasa yang tak karuan. Kemudian dia melanjutkan kata-katanya.
“kamu sangat boleh membenciku, tapi aku juga sangat memohon maaf, aku harus pergi dengan dia. Maafkan aku”. (dia memberikan bunga ketanganku dengan sejenak mengepalkan tangannya diatas tanganku lalu pergi.
Nafasku terhenti saat dia mulai berkata-kata keji, selepas dia pergi aku hanya bisa berkali-kali menghela nafas lalu menatap ke langit untuk menahan air mata tapi ternyata aku tak sekuat itu. Meneteslah air mata ini tapi sebelum benar-benar terjatuh aku langsung menyekanya, benar-benar harus menahannya. Setelah dirasa cukup tenang aku temui lagi keluargaku dilanjutkan foto-foto lalu makan bersama.
Sesampainya dirumah, aku langsung pergi ke kamar, mengganti baju lalu tertidur.  Tak lama kemudian mata ku terbuka kembali, kulihat jam dinding menunjukkan pukul 11:30. Kejadian buruk tadi siang kembali menyerang pikiranku, kini aku benar-benar menangis tersedu-sedu tapi ku usahakan agar tak terdengar ke kamar mama. Mengapa dia begitu bodoh menjelaskan semuanya dihari bahagiaku, dia memanng lelaki buruk. Tertangkap jelas oleh kedua mataku  dia meninggalkan ku with another women. Oh my goddddd, he is crazy, dia benar-benar toxic people huhuhuhu. Sulit kupercaya, tampangnya tak memungkinkan dia orang jahat. Tapi siapa tahu, ternyata aku tak pandai menilai orang.
Tepat Januari aku sendiri, dia pergi. Aku akan menggapnya mimpi buruk, kini hatiku telah diisi keikhlasan. Memang, dalam kehidupan ini orang-orang pasti menginginkan hal baik, tapi realitanya kita tak terlepas juga dari hal buruk  Semuanya beriringan ataupun silih berganti. Kalau tidak, bagaimana kita belajar syukur dan sabar? Aku berusaha menyimpulkannya dengan baik, itulah situasi sebenarnya, begitulah.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

RPP IPA Kelas 4 SD Semester 1 KTSP

Makalah Strategi Pengembangan Penilain Karakter Berbasis Penilain Otentik

DOCTOR ROMANTIC