Midle of JUNE
Ketika awan diatas kepala, aku berdiri
dipinggir pagar rumah menunggu ojek online yang sebentar lagi akan tiba. Aku
menaiki motor dengan terburu-buru, sebelum sampai di gapura, tersadar aku lupa
memakai sepatu dan meminta tolong ke aa ojek untuk balik arah, bukannya dia
merasa kesal malah dia receh ngakak melihat kecerobohanku. Berbeda denganku,
aku malah merasa miris adaptasi hidup sendirian, terbiasa diingatkan oleh mamah
atau kakak perempuanku yang sudah seperti mamah keduaku, dan sekarang aku harus
benar-benar mengurus diri sendiri.
Pohon awan meluas, aku menoleh angkasa raya
biru muda, iya ini musim kemarau. Hati musim ini seperti terlantarnya rumput
liar jalannya. Titik hujan dari langit tak terlihat, aku rindu suara hujan. Perasaan
yang timbul tenggelam, Ketika siang hari merasa independent people dan
batasnya hanya sampai matarhari terbenam, lalu setelah itu, I need someone to
talk. Selain itu aku juga butuh wifi
dikosan ini, lalu aku berdiskusi kepada ibu kos dan ia memberi solusi untuk
bertanya ke seseorang yang di samping kamar aku, karena hanya dia yang memasang
wifi di kosan ini. Ketika malam tiba, aku tahu dia sudah pulang dari tempat
kerjanya, aku memberanikan diri mengetuk pintu, setelah mengumpulkan keberanian
selama 2 pekan.
“Tuk-tuk-tuk, Assalamu’alaikum” sapa ku.
“Waalaikumsalam, sebentar”.
Setelah menunggu selama 2 menit dia membuka
pintu dengan masih menggunakan handuk, lalu aku dengan canggung menceritakan
tentang wifi, dan dia memperbolehkan aku untuk bergabung, dengan suara nya yang
agak terkesan sombong, aku benar-benar merasa trauma, setelah didapatkan kata
sandinya, percakapan kami ditutup dengan ucapan terimakasih yang aku lontarkan.
Masalah lama teratasi, dan munculah masalah
baru, bagaimana cara aku membayar wifi nya, sementara aku terlalu sungkan untuk
mengetuk pintu dan terlebihnya sudah sangat trauma. Aku berfikir keras dan
setiap berpapasan aku benar-benar tidak berani menyapa dan menanyakan tentang
wifi . Sampai akhirnya aku melakukan hal konyol dengan cara mengirim surat yang
isinya aku bilang aku terlalu sungkan mengetuk pintu jadi kita bicarakan di wa
saja, aku tuliskan no wa nya. Lima hari berlalu dia tidak ada mengirim pesan,
aku semakin merasa malu dan sedikit menyesal melakukan hal konol, namun setelah
hari ke tujuh dia mengerim pesan dengan memperkenalkan diri dan meminta maaf
katanya kertas nya baru ketemu. Lalu kami saling bebincang lewat text membicarakan tentang wifi, ternyata dugaanku
salah dia gak sombong malah sangat baik dan friendly dia bilang dia sangat gak
enak menagih bayaran karena aku masih kuliah lalu dia ternyata mengirim
pesannya memakai emot, aku terheran ternyata dia friendly juga. Setelah
kejadian itu, akhirnya kami mulai dekat, kadang-kadang kalau dia berangkat
kerja pagi, dan aku berangkat ke sekolah pagi, lucunya kami barengan membuka
pintu, dan saling tertawa.
“Mau beranngkat bareng?” Tanyanya
Jiwa hematku meronta-ronta aku jawab ‘’Boleh”
Tidak ada percakapan sedikit pun hanya pas aku
turun dari motor aku ucap terimakasih dan dia hanya tersenyum sambil mengangguk.
Entah sebuah kebetulan akhirnya aku dianterin
setiap hari, sambal dia berangkat kerja, selama satu minggu dan tidak ada
percakapan apapun, berjalan begitu saja.
Setelah minggu kedua dia ganti sift jadi siang,
aku berangkat sendiri, tetapi anehnya aku merasa ada yang beda, ya maksudnya
emang beda orang gak dianterin kan , cumin ini apa ya.
Beri tahu aku, apa warna perasaan ini? 5 menit
menempuh perjalanan senyap, sampai di pinggir sekolah langkahkan kaki menuju kelas, this is hampa.
Satu minggu berlalu, wajah molek persawahan dibelakang rumah sangat meneduhkan
jiwa. Namun Ketika aku hendak menuruni anak tangga tetiba hp ku terjatuh sampai
lcd nya rusak, merasa gak enak hati dan sangat ingin pulang tapi aku mengurungi
niat. Hingga menjelang malam aku dapat kabar buruk dari keluargaku sampai aku
nangis beberapa hari dan bolos tidak pergi kuliah.
Bunga disudut jendela kosan tampak melayu,
langit menggelap, angin basah menerpa wajahku yang hendak menutup jendela, kembali
terletang dikasur kecil dengan kedua tangan memeluk boneka teddy bear, tak
terasa air mataku keluar begitu saja dan berlanjut dengan terisak. Padahal aku
sudah mengakalinya dengan menyalakan playlist ost drama di youtube, tapi
sepertinya tangisku masih terdengar oleh tetanggaku.
“Tuk-tuk-tuk” suara ada yang mengetuk pintu,
setengah sadar aku membuka pintu lalu dia bilang kenapa, aku menghampirinya dan
menyenderkan kepalaku tepat di dadanya, tangisku semakin menjadi kala tangan
kanannya mengusap rambutku. Hujan dahsyat menyiram segalanya,tidak meminta
hujan hendak pulang karena membasahi baju kami, hanya berharap tangisku reda.
Leher terasa sakit yang menyadarkanku segera melangkah mundur.
‘’Maaf’’ lirihku.
Hujan mereda, dia menyuruhku menggati baju dan
ditunggu 15 menit lagi mencari makan malam keluar. Aku keluar dengan mata yang
masih bengkak, lumayan tertutupi dengan kacamata, hanya saja makan sambil
memakai kacamata sedikit mmenggagu. Tidak ada pertanyaan kenapa aku menangis,
malah membahas kenapa kucing dikosan kami diberi nama simba. Aku suka orang
seperti ini, tidak terlalu kepo tapi dia memahami dan memberiku ruang. Aku
tersenyum syukur, dia malah menergur lamunanku dengan pernyataan cinta. Aku mengangguk,
officially 15 june.
Comments
Post a Comment