DOCTOR ROMANTIC

 


Riang yang mengiris itu bernama rindu. Seumpama awan yang mendung, kemana kujatuhkan rindu? Di balik jendela yang kubuka sedikit, tiba-tiba aku teringat lelaki yang selalu berpapasan setiap aku keluar kamar. Cerita bermula pada saat aku terdesak harus pindah kost karena kuliah profesiku. Pada awal-awal pindahan, aku jarang banget berpapasan sama penghuni kost lainnya. Namun setelah dua bulan tinggal disana aku sering sekali berpapasan sama entah siapa namanya. Ketika aku mau berangkat ke sekolah dan sedang memakai sepatu, dia pasti turun dari atas untuk pergi koas katanya, meskipun jamnya random tapi kami selalu kebetulan begitu saja. Aku mendapatkan informasi tersebut dari bibi kost. Dia ternyata seorang dokter gigi yang sedang koas. Karena terlalu sering berpapasan akhirnya kami saling nyapa. Karena kamar dia diatas kamar aku, jadi secara tidak langsung aku tahu aktivitas dia, kaya mandi , cuci piring, ngambil minum air galon, atau  keluar kamar. Kadang kesal karena agak berisik suka ada suara-suara kaki jalan-jalan di malam hari. Aku tidak bermaksud kepo tapi orang setiap hari terdengar jelas.

“Go fooddddd go food” suara grab yang sangat terdengar jelas karena kamarku dekat gerbang. Tiba-tiba dia keluar dari kamarnya.

“Atas nama Firman ya?” tanya abang grab.

“Iya pak” jawabnya.

Hahh ternyata namanya Firman, “Eh aku kenapa sih” Iya gak kenapa-kenapa kan orang terdengar.

 

Fajar melesat seperti angin, tidak kerasa hari sudah sore. Aku bosan sekali dengan ruangan ini, ingin keluar mencari makan. Setelah keberanianku terkumpul, aku ambil hoodie yang berwarna abu tua dan kupakai kerudung rabanni warna hitam. Lalu aku beranjak keluar kamar. Ketika aku mau membuka gerbang, kaki gerbangnya nyangkut dan aku sangat kesulitan. Namun lagi-lagi si Firman datang, aku hanya menoleh…

“Susah yah teh?”tanyanya

“Iya nyangkut” jawabku singkat

Dia membantu membuka pintu gerbang, eh bisa tidak dianggap membantu kayaknya emang dia juga mau keluarin motor sih. Derap langkah kaki melintas rumah-rumah komplek dengan perasaan yang masih terpesona karena pertama kali melihat wajahnya tanpa masker. Oh my god yang di buka gerbang tapi yang kebuka malah hatiku. Seperti elang aku ingin memangsanya. Apa? Sadar Ainun, kamu sadar Emha Ainun Abrory apa yang telah kamu ucapkan sangat menyeramkan.

Aku membeli makanan yang sangat popular di sukai kalangan wanita, apalagi kalau bukan seblak. Lumayan kesulitan beradpatasi karena merantau, aku belum bisa makan dengan teratur dan nafsu makanku hanya untuk makanan pedas mungkin efek terlalu banyak overthinking. Hingga pada malam tiba, gigi ku terasa sakit sekali. Pertama dalam hidupku mengalami sakit gigi, sangat kebingungan apa yang harus aku lakukan dan ternyata sakit gigi itu luar biasa sakitnya sampai aku gak bisa nahan nangis. Sepertinya aktivitas aku dibawah juga terdengar sama dia. Karena sudah dua hari mungkin terdengar suara tangis, dia akhirnya mengetuk pintu kamarku.

“Permisi mbak “

Aku membuka pintu sedikit dan hanya memandangnya saja dengan keadaan pipi ku bengkak sebelah.

“Apa ada masalah? Soalnya mbak terdengar nangis selama dua hari” lanjutnya

Bodohnya aku tidak bisa mengendalikan diri, aku malah menangis di hadapan dia sambil menunjuk ke pipiku yang bengkak. Sangat jelas sekali dia menahan tawanya.

“Aku boleh periksa gak? Aku dokter gigi cuman masih koas”.

Aku hanya mengangguk, karena benar-benar kesulitan untuk berbicara.

“Sebentar saya ke atas dulu”. Ternyata dia mengambil dulu peralatannya. Aku benar-benar pasrah diperiksa sama dokter koas, ya mau gimana lagi mau pergi ke klinik gak berani soalnya belum hafal jalan.

Setelah selesai di periksa, dia memberikan obat dan menjelaskan aturan makannya. Karena melihat kamarku yang super berantakan terus melihat sekeliling kamar mungkin tidak ada makanan, dia kembali lagi mengetuk pintu membawakan makanan yang mudah di makan untuk orang yang sedang sakit gigi.

Aku hanya tersenyum lalu menutup pintu. Sumpah aku benar-benar gak bisa bicara. Menjelang siang, aku baikan, sakitnya mereda, syukurlah.

Dari kejadian tersebut kami menjadi akrab, lalu memutuskan untuk bersama setelah kuliah profesi guruku selesai. Tepat sebelum itu, di ruang waktu ada titik momen saat dia selalu menggantungkan bunga merah dan kopi gula aren less sugar di gagang pintu kamarku setiap jam 7 malam. Berhubung kuliah profesiku sangat berat dia membersamai ku lewat effort seperti itu. Kemudian memberi ending dengan sangat luar biasa, lucu sekali, prewedding kami konsepnya ala-ala script cerita dokter gigi berkunjung ke sekolah untuk penyuluhan cara membersihkan gigi dengan benar, kiyowo banget deh.

Lamunan ku terhenti ketika hujan tiba-tiba turun dengan deras, aku melirik foto prewedding yang terpajang di ruang tengah rumah, tersenyum simpul, matanya terpejam.

Mama” Bangunnnnnnnn” wkwk selesai.

 

 

 

 

 

 

Comments

  1. Aku suka cara kamu menggambarkan rasa rindu, sangat relate. Tapi beberapa bagian terasa agak cepat, mungkin bisa diberi transisi agar alurnya lebih halus.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

RPP IPA Kelas 4 SD Semester 1 KTSP

Makalah Strategi Pengembangan Penilain Karakter Berbasis Penilain Otentik