DANDELION
Langit November banyak mendungnya ya! Namun tidak masalah
bagi dandelion, dia sangat mudah beradaptasi. Dandelion memang bunga yang
sangat indah namun dia sebenarnya rapuh. Meski begitu, ia adalah bunga yang
berani terbang tanpa sayap. Dimanapun angin membawanya berhenti terbang,
disitulah dia akan tumbuh. Dandelion tampilannya identic sangat sederhana. Mekar
di pagi hari, dengan bunga kuningnya menyerupai bulan. Bola kepulauanya yang
menyerupai bulan. Biji-bijianya yang menyebar menyerupai bintang. Namun semua
keindahan itu kembali layu di malam hari.
Tetapi sebenarnya ini bukan tentang Dandelion.
Namanya Yara Dandelion adalah pelaku utamanya. Sepotong kisah
Dandelion hanya sebuah analogi rasa. Yara tidak ingin terlalu abstrak
mengutarakannya, tapi ia lupa kalau tidak semua orang paham linguistic.
Nama Yara sendiri terbilang unik, orang tuanya memberikan
nama tersebut karna mereka mempunyai toko bunga. Lalu ketika lahirnya Yara , bunga
dandelion adalah bunga yang banyak terjual kala itu. Akhirnya mereka memberi nama
Yara Dandelion kepada anak perempuan pertamanya. Entah kenapa saat beranjak
dewasa, karakter Yara sangat mirip dengan bunga Dandelion, bukan mirip ibunya
apalagi ayahnya. Yara ditinggalkan mereka sewaktu dirinya masih kecil. Dia dibesarkan
oleh tetangga tokonya secara bersamaan dan bergantian. Meski demikian, Yara
dikenal anak yang ceria karna dia cukup mendapakan kasih sayang dari
lingkungannya, sampai akhirnya Yara dikenal sebagai anak mereka bersama.
Kanopi pohon dibelakang rumah, memayungi Yara yang sedang
bersantai di hari liburnya. Sekarang usianya telah mencapai 24 tahun, semakin
beranjak dewasa dia semakin mengerti tentang dirinya sendiri. Meski banyak yang
menyayanginya, rasanya tetap ada yang hilang, tetapi dia tetap bersyukur. Beberapa
menit kemudian, Yara memutuskan untuk minum coffee di dekat rumahnya, dia
berangkat menggunakan sepeda kesayangannya.
“Kayanya aku akan merasa lebih nyaman setelah minum coffee”
ucap Yara.
Diperjalanan baju Yara terkena tumpahan coffee oleh seseorang
yang hendak membuangnya ke bak sampah, tapi sialnya pas waktu Yara melewati bak
coffe tersebut. Dia menggerutu sendiri, mengehela nafas lalu memakai jaket yang
ada di keranjang sepeda untuk menutupi noda di bajunya.
“Apakah bagian luar tubuhku juga butuh sentuhan coffe? Aishhhh”
dia menganyunkan kembali sepedanya.
Suasana coffeshop yang sangat sepi, membuat Yara semakin
enjoy untuk duduk disana. Yara memesan red velvet dengan ukuran besar. Yara
memang suka aroma coffe tapi tidak suka kalau harus meminumnya. Cara mengatasi
hal tersebut, ya seperti itu, datang ke coffeshop agar menikmati aromanya tapi
memesan menu lain. Iseng membuka gmail, ternyata ada panggilan wawancara di
tempat coffeshop Yara berada.
Yara sangat kaget karena dia tidak membawa baju formal,
akhirnya dia meminjam ke baristanya karna waktunya tidak akan cukup kalau dia harus
pulang dulu. Setelah selesai bersiap-siap dia langsung menuju meja yang sudah
dia dapatkan informasinya di gmail. Kaget kedua, HRD nya ternyata mas-mas yang
numpahin coffe ke baju Yara. Dia harus tetap tenang dan tersenyum.
Yara berhasil meregulasi emosinya ketika wawancara sampai
akhirnya dia diterima diperusahaan skincare yang cukup terkenal di Indonesia. Hari
ini, hari pertama kerja, Yara memilih baju yang special untuk menaikan moodnya.
Setelah berada di lift, ada seseorang yang masuk dengan terburu-buru membawa
segelas americano yang tumpah ke baju bagian tangan Yara dan lagi-lagi orang
itu orang yang sama, Riza namanya. Kalau bukan atasannya, dia pasti sudah
memakinya, tapi dia menahanya hanya bisa membunuhnya dengan tatapan tajam lima detik, lalu terpaksa tersenyum sedikit.
“Kenapa dia belum keluar-keluar juga, padahal HRD dilantai 4”
Setelah sampai dilantai 6, Riza juga ikut keluar lift dan
memasuki ruangan yang sama, ternyata dia dipindahkan jadi kepala tim Yara.
“Selamat pak” dia memberi ucapan singkat. “ Kenapa aku terus
berurusan dengan dia”, keluh Yara.
Semua drama menuju pekerjaan barunya, membuat dia sedikit
melupakan Malik yang sudah tidak menghubunginya selama satu bulan. Namun saat
bulan menyala, Yara terlintas memikirnya.
“Kepada September yang telah usai. Banyak perasaan sakit,
tapi tidak dibuat berisik. Aku terima rasa sakit di bulan ini. Karna kedewasaan
ini melelahkan, ada rapuh yang harus tersimpan rapih. Aku tidak bisa memaksamu
dan menunggumu lebih lama lagi. Aku hanya memohon kamu menjauh sejauh-jauhnya
yang aku butuhkan. Aku tidak bisa lagi menikmati rindu tanpa komunikasi. Karena
narasi tidak berintonasi, itu sebabnya kita perlu berinteraksi, apalagi jika
hanya sebuah telepati. Maaf aku wanita yang suka berbicara, tapi tidak suka merengek
karna tubuh kita sudah tinggi. Aku izin leave”. Selayu dandelion, Yara melayu
di malam hari.
Comments
Post a Comment