Rahsa

 


Jumantara di sore hari di kota Bandung yang cukup nyaman. Mata yang penasaran melihat setiap sudut yang terjangkau. Tersenyum sejenak, merasa bangga pada diri sendiri karna mau mencoba hal-hal baru di rentan waktu dua tahun ini. Memberanikan diri memilih jalan berbeda dari kebanyakan yang orang lain tempuh. Sembari berfikir menjelajah, ternyata temaram hari ini sudah tiba. Aku bergegas pergi ke rumah. Tetapi ini tidak bisa disebut bergegas, karna aku berjalan perlahan layaknya kura-kura. Tidak sengaja, terlihat sosok lelaki berjalan berlawanan denganku. Kita melewati satu sama lain, namun beberapa saat kemudian ada yang bilang ‘’Permisi’’, aku menoleh kebelakang.

Aku hanya menjawabnya dengan mimik muka yang seakan-akan bilang, “iya ada apa?”.

“Batre handphode ku habis, boleh gak kalau aku minta tolong untuk memesankan gocar?”

Dalam hati aku ngedumel, ih gak jadi tipeku dia merepotkan tapi kasian juga sih “Emm okay, mau saya pesankan kemana?”

Setelah urusan aku sama si stranger itu selesai, aku melanjutkan langkah kaki ini. Tidak lama kemudian,  mang gocar itu menghubungiku dan dia bilang kalau tas lelaki itu tertinggal di mobil. Tadinya mau bodo amat, terserah dia karna itu kecorobohan dia. Lagi-lagi sinyal simpatiku lebih kuat dari rasa bodoamat. Akhirnya, aku memesan kembali gocar itu ke tampatku untuk mengantarkan ta situ. Setelah di cek ternyata rumahnya tidak jauh dari tempatku. Sebenarnya dengan berat hati, aku mengantarkan tas itu ke rumah dia. Sebelum sampai ke rumahnya, kebetulan kami bertemu dilingkungan rumahnya. Aku refleks memarahi dia. Sangat menyebalkan dia malah tersenyum tipis, meminta maaf lalu berterimakasih. Aku pulang tanpa dikasih ongkos sama si lelaki itu, oh iya namanya Akmal, aku melihatnya di KTP dia. Awas ya kamu Akmal kamu menyebalkan sekali.

Hari yang dingin, ini hari pertama aku pergi ke kampus dan lupa memakai jaket. Setibanya di kampus aku benar-benar kedinginan, mengakibatkan harus segera pergi ke toilet. Setelah mencari toilet selamat 10 menit, okay ketemu. Lalu melanjutkan mencari kelas, setelah sampai didepan kelas, tampaknya aku paling lambat datang. Aku memasuki kelas dengan tersenyum tipis ke orang-orang sekitar tanpa dilihat jelas wajah-wajah mereka, aku hanya melewati begitu saja lalu duduk dikursi yang kosong. Aku menoleh ke pinggir lalu bilang “hay”. Dia menjawab “hay” dengan mengangkat kedua alisnya dan tersenyum lebar. Astaga ini si Akmal, aku terpaku dan mulutku agak terbuka karena merasa heran. Dia dengan jailnya memasukkan lollipop ke mulutku. Kedua bola mataku langsung keluar, lalu memalingkan muka. Lihatlah kerudungku bengkok 4 cm itu berarti rasa marahku begitu dalam.

Setelah kelas selesai, aku terburu-buru keluar mencari tempat tenang. Setelah kutemukan, terduduk di kursi yang telah usang namun terlihat aestetik dengan pohon rindang yang memiliki tiga dahan itu memayungi kursi ini. Lalu ada seseorang duduk disampingku, dan ternyata itu si Akmal. “Kamu!” aku memanggilnya dengan intonasi tegas dan tidak bisa berkata-kata lagi karena benar-benar kesal. Kali ini dia berekspresi serius lalu berkata “Hai gadis, aku benar-benar mau minta maaf tentang persoalan kemarin, aku begitu merepotakan. Dari pertama kali kita bertemu, aku tahu kamu orang baik.  Selain itu, kamu tinggi, kamu cantik, dan kamu mengabaikanku. Jadi sangat jelas kamu tipeku.

Apa ini? Apakah ini yang disebut sat set sat set kata orang-orang itu? Hahahah ternyata sangat konyol karna pertemuan pertama kita dalam mindset ku kamu menyebalakan.

Dia melalnjutkan kalimatnya

“Iya aku suka kamu, tapi santai aja kita kan baru kenal, kita juga satu kelas jadi ya santai aja ya gakpapa aku hanya memberitahu mu saja iya gitu, emm ini ada bingkisan sebagai bentuk permintaan maaf dan terimakasihku, aku taruh di kursi ya. Aku pamit, jangan bosan jadi orang baik dan cantik ya, bye”.

Dia perlahan menjauh, lalu menoleh kembali sambil berteriak “Jadi kalimat mana yang paling menyentuh hati mu?” dia tersenyum receh lalu berlalu.

Oh my god, situasi macam apa ini. Aku bahkan bingung apakah sedang merasakan bahagia atau kesal karna itu datang bersamaan. “Jangan bosan jadi orang baik dan cantik” kenapa kalimat itu terus berada dipikiranku, apakah aku tersentuh dengan kalimat itu. Ah anggak ini terlalu berbahaya, kenapa aku jadi mudah terpengaruh begini. Aku berjalan keluar kampus, lalu tak sengaja aku membaca quotes di pojok kampus yang bertuliskan “ Sejelek apapun halaman sebelumnya masih ada kesempatan menulis indah dihalaman selanjutnya”. Lalu tiba-tiba terpikir, gakpapa dia mengjekelkan pada awalnya, mungkin sebenarnya dia orang baik. Bukakah pada lirikan pertama kamu menyebutkan tipemu. Wahh ini kacau sih, bisa-bisanya dikaitkan dengan si Akmal.

***

Diujung fajar, I have the day with you. Kita diner ditempat yang cukup bagus. Bercerita tentang pertemuan pertama kita, dan itu membuat mood kita bagus. Tidak menyangka sekarang kita sudah bersama sebagai teman enam bulan lebih satu minggu. Sebenarnya pertemanan kami cukup berat, karena sepertinya aku memang memiliki perasaan lebih kepada Akmal, akhir-akhir ini. Selama kami berteman, Akmal memperlakukanku dengan baik, tapi setelah ku amati dia juga memperlakukan teman lainnya sama, yeah he is friendly. Sekarang aku berada di garis abu-abu padahal fakta memberitahuku kalau jawabanya tentu saja tidak.

“ hey Rasi kenapa tiba-tiba melamun?’’

‘’ Enggak mal, ini cuacanya bagus ya”

Aku emang orangnya suka banget mengajukan pertanyaan, kami mengobrol seperti biasanya.

“Rasi kamu selalu mengajukan pertanyaan acak apa itu emang kebiasaanmu?’’ dia tertawa receh.

“Sorry aku agak kepo, but kepo is care?” hahahaha

“sorry, are you care for me?”

Aku terkejut, lagi-lagi aku salah tingkah dan malah langsung bilang, aku mau ke toilet.

Aku menatap wajahku dicermin toilet. Aku yang selalu salah tingkah, apakah itu masih tidak cukup untuk mengutarakan isi hatiku. Selama ini aku mencintaimu dengan cara yang paling rahasia. Tetapi kenapa sekarang semakin tak terkendalikan. Setengah berharap, setengah menyerah. Tapi aku bertahan untuk menyelesaikan studiku sebentar lagi. Dan setelah itu, aku akan pindan dan menjauh, jika tetap disini aku akan beralasan untuk tetap menemuimu. Tidak hanya sehari, tapi sesering hari. Seperti cahaya matahari hari, selama ini kamu menyentuh hangat naluriku.

Aku kembali, dan duduk disebelah dia.

“Aku kebelet, sorry. Kayaknya aku harus pulang deh, perutku sakit”.

“Kenapa tiba-tiba ya? Tadi kamu baik-baik saja, tapi gak papa, aku anterin ya”.

“Gak usah, tadi kita tanggung udah pesen, kamu abisin punya aku juga ya hahha byeee”.

***

Selama enam bulan kurang tiga bulan aku tetap bertahan berteman dengan Akmal, meski berat. Hingga akhirnya setelah beres studi kami, setelah dia mendapatkan pekerjaan, dia benar-benar melamarku. Dan dia berkata, aku sebenarnya jujur ketika aku dulu bilang aku menyukaimu tapi aku belum siap. Dan sekarang aku benar-benar ingin bersamamu selamanya. Sekarang, tidak ada dua cinta dihati ku sebagaimana tidak ada dua Tuhan bagi diri.

 ‘’Kamu mau nikah sama aku Rasi?’’

“Boleh mal”

*Selesai*

Comments

Popular posts from this blog

RPP IPA Kelas 4 SD Semester 1 KTSP

Makalah Strategi Pengembangan Penilain Karakter Berbasis Penilain Otentik

DOCTOR ROMANTIC