Menjadi Bulan terlalu Redup-Part A
Karena ini masih bulan Juli, seharusnya jangan
terlalu merasa kecewa, tahun ini masih belum berakhir, masih banyak space waktu
yang mungkin saja giliranku, giliran harapanku. Jikapun belum waktuku, jangan
lupa merasa masih ada waktu. Tak lama sekali hanya sedikit lebih lama, iya
bukannya aku sangat pandai menunggu baik itu 10 kali atau 1001 kali, aku paling
tahu aku bisa menunggu. Wajar saja jika merasa khawatir bahwa menungguku
takutnya hanya untuk membuang waktu.
Kepalaku tertunduk, aku gak bisa menangis mode
silent, isak tangisku mulai terdengar, ada manusia baik yang menghampiriku dan
bertanya
“Hey kenapa menangis?” tanyanya seraya lembut
Aku hanya menoleh, kemudian makin tersedu-sedu,
padahal sebenarnya aku tidak berencana untuk menangis, aku hanya ingin melamun.
“Ih jangan menangis” serunya, lalu aku
menatapnya, “ Yaudah boleh tapi menangisnya sedikit” lanjutnya.
Mataku melanjutkan mengeluarkan air matanya,
hanya saja aku terlalu receh, ingin ketawa hanya karna dia bilang boleh
menangis sedikit, tapi bukankah akan terlihat aneh jika tiba-tiba ketawa. Kemudian
aku mengatasinya dengan melipatkan bibirku lalu berusaha tertawa didalam hati. Aku
tidak mengerti situasi macam apa sekarang ini, aku menghapus air mata ini
dengan kedua tanganku.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanyanya
Bagaimana bisa dia masih bertanya aku baik-baik
saja, sedang aku merasa aku sedang berada di titik kehidupan paling rendah, aku
bahkan lupa menutup payung setelah hujan reda.
“Aku baik-baik saja, hanya saja tadi aku tak
bisa control diri, terlintas hal berat, maaf sudah menangis dihadapanmu” seruku
sambil tersenyum, namun kedua tanganku mengepal.
Hatiku berkata bodoh sekali meminta maaf hanya
karana kamu menangis.
“Emm jadi begitu, aku merasa lega jika kamu
baik-baik saja, sebaiknya aku pamit pulang rin”.
“Oh okay, hati-hati ya!” jawabku dengan tempo
cepat.
Pemilik ritme langkah kaki yang special karna kamu
orangnya, cukup sering menguasi pikiranku, berjalan berlalu dengan memakai
sepatu warna putih.
Aku suka jarak antara aku dan kamu, aku tidak
ingin membuat kesalahan dengan menuruti perasaanku yang masih belum jelas. Aku suka ketika kita bertemu hanya sekedar
teman, aku suka sesekali kita saling menghubungimu hanya kalau ada hal penting,
itupun sebagai teman. Aku juga suka ketika kita berboncengan hanya sebatas
teman. Aku tidak mau cinta ini datang sebagai pengemis, perasaan yang sangat
tercermin jelas padahal masih belum benar-benar jelas.
Aku masih belum percaya diri dalam hal
percintaan, pekerjaanku yang masih belum jelas, perekonomian keluargaku yang
sedang krisis, merasa sangat egois jika aku menginginkan cinta dari seseorang. Entahlah
aku tahu aku manusia rumit, hanya saja aku ingin terhindar dari kekecewaan yang
berlebih.
Ada beberapa hal yang perlu aku bereskan
terlebih dahulu, tentang kehidupanku yang sedang terbentur keras dengan harap
bisa segera terbentuk dengan ikhlas. Aku juga begitu sadar diri jika ingin menjadi
matahari terlalu terang tapi aku juga percaya tidak seredup bulan. Usaha-usaha
yang terbilang samar nyaris tak kasat mata tapi mungkin suatu saat akan menjadi
tangga-tangga mungil yang membatu berjalan.
Dilain waktu, nanti setelah kehidupan pribadiku
membaik, mari bertemu dengan segenap rasa yang telah dirajut dengan indah. Karna
ada sedikit keyakinan bahwa kamu terlihat seperti cintaku, pada nantinya.
Keren
ReplyDeletethankyou :)
Delete