Cerpen "Ingin Memilikimu adalah Kalimat yang Berbahaya, awalnya"


Seekor lalat yang sengaja hinggap di atas kue ulang tahun yang masih dalam proses pengerjaan nampak menyebalkan dia tak dapat terbang lagi, aku harus menyingkirkannya. Kenapa hanya seekor lalat begitu dipermasalahkan? Biasanya hanya menggurutu sedetik lalu diabaikan. 

Hari Rabu adalah hari raya Rindu, begitu yang  kulihat dipostingan Najwa Sihab, pembawa acara Mata Najwa yang menjadi salah satu perempuan paling menginspirasi, entah hari Rabu ataupun hari lainnya rupanya aku memang selalu merindukan seseorang, dan besok tepatnya hari Rabu adalah hari ulang tahun temanku, Salim, aku merindukannya. 

Udara sore hari kali ini sangat dingin, cuaca yang mendung sangat mendukung untuk dirumah aja dan menyelesaikan kue ultah ini, ku poleskan kembali krim yang tadi terkena lalat dirapihkan dengan sangat hati-hati lalu panaskan coklat dan ditumpahkan perlahan-lahan, didiamkan sebentar, lalu mengering dan ku tambah ceri di beberapa tempat, kue ultah kali ini hanya ada tiga warna krim putih, coklat, dan ceri merah sudah begitu saja selumrah dan sesederhana itu. 

Hari yang lelah, ku lentangkan tubuh mungil ini di sofa, memutuskan untuk tidak tidur dispringbed. Mata tertutup begitu saja lalu terlelap, sepertinya malam ini aku tidak mimpi apa-apa.  Mandi pagi sangat baik untuk kesehatan dan kecantikan haha. Sekarang jam 7  pagi dan Salim akan ke rumah pada pukul 8 pagi. Ku rias wajahku agar terlihat cantik dan ku kenakan baju terbaik.  Bentar-bentar kok aku terlihat begitu berlebihan, gak, enggak ini terlihat wajar ko untuk teman baikku, Salim yang selalu mau aku repotkan. 

Tingnong-tingnong suara bel rumah terdengar ”Pasti itu Salim” ku buka pintu dengan pasang wajah senyum eh enngak, aku harus pasang wajah yang agak tertawa jangan tersenyum itu terlihat seperti memasang mimik ke pacar haha. “Hay Hil, gimana kabarmu? Kamu cantik banget hari ini, kamu berias ya? Hahha”

“Emmm enggak ko, aku aku..aku.. memang cantik setiap saat, haha” berusaha untuk tidak  kaku.

“Kapan kamu kembali dari Malaysia?”

“Kemarin Hil”

“Gimana liburannya, menyenangkan?”

“Emm lumayan menyenangkan”.

Sudahlah aku males nyari topik, dia memang seperti es batu. Aku menawarkan kopi dan dia mengangguk. Aku pergi ke dapur dan yang kubawa bukan kopi melainkan kue, dia sedang menghadap ke jendela dan ku berjalan mengendap-ngendap agar tak terdengar, lalu setelah sudah berada tepat dibelakangnya aku langsung memanggilna,

“Salim” pas menoleh lalu ku lanjutkan “Selamat menua temanku”

“Waw this is surprise?”

“Yes, sure”.

“Thank you”. Salim menyolek mentega kue lalu di oleskan dipipiku

“yaaaaaa” responku sambil cemberut dan Salim hanya tertawa geli sambil melihat ekspresiku. 

Aku merasa beruntung mempunyai teman yang bisa diandalkan, dia selalu mau mengantarku kemana pun, aku juga suka menawarkan bantuanku, tapi sepertinya dia lebih banyak membantuku ketimbang aku membatunya. Sering banget dikatain orang pacaran, padahal pure aku dan Salim gak ada rasa sama sekali awalnya, tapi makin kesini-sini ada yang berbeda hingga kita saling peka tanpa berkata pun kita mulai jaga jarak.

Cuaca mendung yang bikin mager tapi tetap mengharuskan ku keluar rumah untuk mengumpulkan tugas ke kampus, ya sama siapa lagi aku gak punya teman diumur 23 an ini karna dilingkunganku nyaris udah pada nikah, dan akhirnya ngajak Salim, okay dia setuju. Kami berangkat pukul 7 pagi menyusuri jalanan kota yang macet karna ada pabrik bulu mata yang lumayan banyak karyawannya dari arah rumahku, apalagi kalau musim sekolah macetnya parah banget. Setelah tiba dikampus, aku langsung mengumpulkan tugas eh tiba-tiba ada tugas yang lupa belum aku kerjain dan deadlinenya hari ini, aku terpaksa mengerjakan tugas terlebih dahulu, dan baiknya Salim mau menunggu, uhhh kasian sih. 

Matahari sudah mulai berada diatas kepala, akhirnya tugaspun terselesaikan. Perut mulai keroncongan aku mengajak Salim nyari makan dulu, kita mampir di tempat makan, asli kita berasa canggung sekali, semenjak banyak yang ngatain kita seperti orang pacaran, dengan refleks nya di tempat makan, kita benar-benar jaga jarak banget, aku hanya ngakak di dalam hati, eh konsepnya gimana ngakak di dalam hati tuh? Hahaha 

Persoalan rasa memang paling rumit untuk diselesaikan dengan logika, rasaku tak bisa ditepiskan begitu saja, kami mulai merasa canggung satu sama lain, mengapa harus canggung? Kalau memang benar gaada rasa, apa karna kami saling mempunyai rasa itu sebabnya kami merasa canggung?  Aaaaaah gataulah aku sangat bingung.

Suara nada dering telegram berbunyi, ternyata tele dari Salim mau ngambil topi dirumahku yang ketinggalan. Suara motornya sudah terdengar, aku langsung membuka pintu, lalu suasana tiba-tiba jadi kikuk kami saling bertatapan sampai 7 detik kayaknya, situasi macam apa ini, sudah ini sudah gak bisa dimengerti, kamipun langsung tersadar lalu berbasa-basi dan Salim pun pamit pulang setelah mengambil topi miliknya. Perlahan-lahan aku berjalan seperti orang linglung dan duduk dikursi dekat jendela sambil termenung apa yang terjadi antara aku dan Salim, masa iya kami saling punya rasa gara-gara di cie-cie sama temen-teman, ah konyol sekali. Tapi jika dipikir-pikir aku sepertinya menyukai Salimmm,” aaaaaaaaaaaaaaaaaa “ aku merengek sendiri. Jiwa asmaraku muncul, dan kini ku menyadarinyaa “aaaaaaa tidakk gak mungkinnnnnn”. Aku berlari ke kamar lalu berguling dikasur dengan perasaan berantakan, ku buka vidio-vidio yang ku rekam saat bersamanyaa,

“Kenapa vidio-vidio macam ini membuatku terpesona, yaaa sebenarnya tadi kamu bukan hanya mengambil topi ya, kamu mencuri hatiku Saalimmmmm, ah tidak” aku menapok wajahku sendiri dan terhampar ke sofa.

“Tuhan tolong kuatkan aku, aku tak bisa menahan ingin memilikinya, tidakkk”.

“Aku tidak boleh mengungkapkannya, aku takut pertemanan ini berakhir dengan rasa bersalah”cetusku. “Ayo Hilmira sadarlahh kamu harus membuang rasa itu, atau kalau belum bisa kamu harus bisa menahannya, fighting yuk fighting” aku merefleksi diri sendiri. Jadi begini rasanya terjebak friendzone, ah...

Kian hari kian lama aku memutuskan untuk memendamnya dan kita rupanya mulai terbiasa dengan pendapat orang tentang kita yang katanya seperti orang pacaran dan memilih untuk mengabaikannya, namun perihal jarak masih menjaga jarak. 

Ku kira cinta ini bertepuk dan tak ada harap, ternyata setelah ku perhatikan sepertinya Salim juga menyukaiku, konon katanya wanita bisa tahu kalau lelaki menyukainya, hahhha. Waduh jangan sampai aku melting dengan ekpektasiku sendiri nanti kalau udah jatuh baru tahu rasa. Eitss bukannya menyukai seseorang bukan hanya tentang mengharuskan dia menyukai kita juga, sebuah rasa memang kadangkala harus di rasa dengan sukarela.

Tahunpun sudah berganti, tapi rinduku tak terhenti, Salim yang sedang kerja di Jakarta setahun sudah kita tak pernah bertemu, satahun kebelakang kita memang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, aku langsung kerja disekolah dekat rumah menjadi seorang guru, sedkan dia setelah lulus langsung kerja disalah satu perusahaan di Jakarta, setelah itu kita seperti putus hubungan, tidak pernah saling menghubungi meskipun hanya sekedar menyakan kabar, sama sekali tidak. Hari ini tak sanggup lagi aku menahan rindu, mungkin baiknya aku membuang rasa ini, selamt tinggal.

“Harusnya sedari dulu aku melepaskan rasa ini” keningku mengerut lalu kupejamkan mata. Dan tiba-tiba suara bel rumah bunyi.

“Siapa sih” aku menggerutu dan membuka pintu. Aku terkejut ketika melihat ternyata Salim yang ada dibalik pintu, setengah sadar dan enggak aku bener-bener melengo lalu tiba-tiba air mataku jatuh, dan tanpa basi basi Salim langsung berkata

“Hilmiraku, maukah kamu menjadi istriku?” dia tersenyum manis sampai gula satu ton pun kalah manisnya sama dia pokoknya fix no debat.

Mendengar kalimat itu tangisku semakin menjadi lalu dia mendorong tubuh ku ke kursi untuk duduk  dan dia duduk dilantai dan mengambil sebuah kotak kecil berwarna hitam disaku jaket warna hitamnya, kemudian membukanya dan sudah kuduga itu pasti sebuah cincin sudah sering muncul  adegan seperti  ini di film-film, wah aku terlalu pede gaksih haha. Ehh ternyata benar, Salim berkata

“Emm, Hilmira maukah kamu menjadi istriku? ini pertanyaan terakhirku takkan kuulangi lagi” bukannya menatap wajahku dia malah berkata sambil menunduk.

“Hey, ayo kita menikah” aku kegirangan. Dia langsung mengangkat wajahnya dengan bola mata yang melotot lalu tertawa dan menjawab.

”Ayo tuan putri, besok subuh ya”.

Kebahagian ini tidak jauh, ternyata Salim yang akan menjadi suamiku, bagaimanapun perjalnan sebuahh rasa yang liku-liku atau bahkan terjal pada akhirnya akan sampai, entah pada siapa, itu akan tetap menjadi misteri selama kamu masih berada diperjalanan.

Comments

  1. Wah terharu bgt,sampe sampe dibayangin+di hayati bangett,kaya di drakor drakorr😭

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

RPP IPA Kelas 4 SD Semester 1 KTSP

Makalah Strategi Pengembangan Penilain Karakter Berbasis Penilain Otentik

DOCTOR ROMANTIC