Cerpen " Menukar Jiwa"


Menukar Jiwa
Ku menghadap baskara yang sedang berseri, memanaskan hati hingga bergejolak sampai ke ubun dan ingin sekali ku luapkan semuanya, tapi bagaimana? pada siapa? aku bertanya pada diri sendiri, tentu saja aku menjawabnya sendiri, mandiri memang. Lalu ada serayu yang merayuku untuk melayukan amarahku, tunggu dulu, pikiran dulu, jangan marah dulu, kamu tahu selalu ada penyesalan seusai marah, katanya. Tidak lama dari itu, payoda pun terhempas ke atas ubun ku, gejolaknya mulai mereda karna semesta menginginkanku untuk tidak mengerang tapi mengarang, dan inilah kisahku.
          Mei, bulan kelima yang menghadirkan banyak tentang kabut tebal kehidupan. Menjelma menjadi serba-serbi spekulasi yang mengisi pikiran. Tantangan, ketakutan, kekhawatiran, kekalahan selalu menggoyahkan pikiran. Aku mengakuinya aku lemah tapi aku tak ingin pasrah, aku cukup berani untuk melawan semua ini. Percayalah kita dapat lebih kuat dari apa yang kita kira.
Beberapa waktu lalu aku tidak yakin akan menyukainya tapi entah bagaimana aku jatuh hati begitu saja. Sedangkan waktu mengalir apa adanya, tapi Tuhan tidak bisa membiarkan dia terus bersembunyi di balik topeng perangai  baiknya. Perlahan-lahan aku sadar kalau semua ini sudah terjadi, luka hati yang sekarang jadi penghuni jiwaku hingga sesekali dadaku terasa sesak sementara urat nadiku terasa sakit, iya sakit sekali, ini seperti dalam peristiwa yang ada di dongeng memang benar kau membunuhku secara perlahan. Tanganku meraba-raba untuk membuka jendela kamar, angin malam menghembus kasar tepat landing ke pipiku, seperti di tampar akhirnya aku tersadar, sesakku mulai menghilang ketika bunga sedap malam menunjukkan sihir hebatnya, semerbak aroma wanginya sampai ke hidungku, aku menikmatinya.
Udara panas siang ini membuat kaki ku menyicil langkahnya menuju ke mbak jus yang lumayan jauh dari kampusku, sebenarnya ada yang dekat kampus, tapi seleraku ada di mbak jus yang di persimpangan itu. Setelah tiba di tempat mbak jus, aku memesan cappucinno oreo seperti biasa, oh ya kenapayang di jualnya bukan hanya jus dan aku juga beli nya bukan jus tapi di panggilnya mbak jus. Pertama kali aku tempat itu yang ku lihat dari tempat itu aneka buah-buahan untuk bahan jus, jadi aku panggilnya mbak jus. Aku tipe orang pelupa, tidak jarang nama orang pun aku suka melupakanya, tapi aku selalu ingat peristiwa pertama yang terjadi. Semisal aku lupa menyimpan nomor telpon kenalanku dan akupun melupakan namanya, ketika hendak menyimpan nomornya aku memberi nama dia puisi, kenapa? Karna dia pernah mengirim puisi di pesan whatsapp, ya jadi begitulah aku.
“ Neng ini minumannya sudah jadi”
“Terimakasih mbak jus” aku tersenyum lalu aku melangkah pergi, setelah dua langkah berjalan, aku membalikan badan lalu..
“Mbak jus kamu tampak cantik hari ini”. Si mbak langsung tertawa seraya bilang “Besok datang lagi kesini, saya akan kasih minuman gratis buat nona manis” dia mengedipkan matanya sebelah, akhirnya kita tertawa bersama dan aku pun melabaikan tangan lalu berlalu. Aku menepi di bawah pohon nan rindang, duduk sendirian memerhatikan jalanan lalu meminum minuman yang tadi, “ aaahhhh segernyaaa”.
Baru saja akan memulai lamunan, tiba-tiba ada yang menepuk pundak ku.
“Jangan jadi manusia sendirian, menyedihkan sekali”.
“ Apa aku tampak menyedihkan alih-alih menggemaskan?” ku dekatkan wajahku pada temanku yang paling nyebelin ini.
“Aih dasar kamu tuh ya”. Resa menghalaukan tanganya lalu kembali berkata
“Apa kamu masih belum siap untuk bercerita hari ini?”.
“Apa yang harus aku ceritakan, kisah tentang cinderella? bawang merah dan bawang putih? Atau tentang psikopat yang hype saat ini?”.
“Sudahlah terserah” suara Resa nambah 1000 oktaf, dia nampak marah haha. Kemudian dia memegang tanganku dan berkata lagi ”Jika sudah siap cerita, hubungi aku ya!” lalu dia pun pergi.
Aku menghela nafas panjang sangat panjang, berpura-pura tidak apa-apa itu sangat berat, kita tersenyum sementara hati merana. Ternyata ketika kita tersenyum itu hanya penjeda rasa sakit yang pada akhirnya kita akan kembali pada rasa sakit itu. Waktu berjalan begitu lamban, dan kenapa terasa berputar ketika tiba-tiba dia menghubungiku lagi.
Tidak ada bintang yang hilang, namun orang yang membersamai ketika menatapnya yang menghilang, sempat terkenang, pernah terlupakan, namun sekarang kembali datang. Mau apa? Telah lama Rey pergi jauh dari ku dengan me nyisakan tanda tanya, menggantung aku sampai  merasa tercekik lalu setelah begitu patah kamu melepaskannya dan mendekap kembali. Are you crazy?
Jangan datang jika hanya untuk menyakiti kembali, jangan datang jika hanya untuk membawa kenangan perih kembali. Jangan datang  jika hanya untuk pergi kembali. Jangan datang..............
Salahkah jika aku menolaknya datang padahal tidak bisa di pungkuri celengan rindu ini ingin dipecahkan. Namun logika berkata, untuk apa? Jika rasaku telah di ujung lelah. Seandainya kesalahan Rey bukan seperti itu, pasti dengan mudah akan ku maafkan. Ini tentang parahnya luka yang Rey berikan, sebenarnya semakin hari aku semakin terluka, kisah ini terlalu tragis bagiku. Aku bagaikan tenggelam ke dasar lautan karna tak bisa berenang,lagi lagi  dada ku terasa sesak, urat nadiku terasa sakit hingga tanganku gemeteran lalu air mataku terjatuh. Kenapa kisah ini terjadi, ini begitu memalukan untuk di ceritakan, tapi terlalu sesak untuk di pendam, jadi apa yang harus aku lakukan? Aku tidak berhenti menyalahkan diri sendiri. Aku merasa diriku sudah berjalan jauh, berjalan lagi semakin jauh, lalu berlari dengan sekuat tenaga tapi kenyataannya aku masih tidak bisa berpindah. Aku meneguk kopi panas yang  di letakan di meja yang terbuat dari kayu di pinggir tempat tidurnya. Kembali bertengkar dengan kepalaku sendiri, kalau saja aku bisa mengucapkan selamat tinggal secara langsung , aku akan mengatakan apa yang ingin aku katakan, bahkan mungkin memakinya hingga aku tak bisa lagi menahan tangis di hadapanmu. Jika saja aku tahu itu pertemuan terakhir kita dan andai saja kamu berkata jujur mungkin aku tidak akan sepatah ini. Tapi semuanya telah terjadi dia memberiku kisah perpisahan yang luar biasa.  Aku lelah, aku ingin tertidur pulas tanpa ada konflik di kepalaku. Tapi apa yang harus aku lakukan dengan pesan whattsappnya. Haruskah aku membalasnya? Atau mengabaikannya saja?. Jarum jam tangan yang ku taruh begitu saja di pinggir bantal kini terdengar sangat keras seolah-olah detik demi detiknya menghitung waktu berfikir ku untuk memilih antara membalas atau mengabaikan. Waktu menunjukkan jam sebelas malam lewat dua puluh menit akhirnya ku putuskan untuk membalasnya.
Aku mengetik “ iya?” sesingkat itu. Lalu dia membalas dengan perkataan maafnya yang tidak bisa aku terima, prakatanya sangat menjijikan memancingku untuk memaki. Aku tidak bisa lagi mengendalikan emosi ini, aku memakinya lewat pesan whattsapp ini, meluapkan semuanya tentang apa yang ingin aku rasakan, dengan alasan ini akan membuatkan lega kalau aku  mengatakan semuanya. Lagi-lagi dia membalas pesan ku bukan apa yang aku harapkan, aku begitu marah, dia terlihat gila dengan kalimat yang menurutku ini sangat tidak tahu malu.
“Baiklah mari menukar jiwa kita, bagaimana jika kamu di posisiku?”, apa kamu akan mudah melupakan? Apa kamu akan mudah memaafkan? Apa kamu akan mudah melepaskan? Ini pertanyaan terkhirku, aku mohon berikan jawaban yang cerdas.
 Handphone ku berdering tandanya ada pesan masuk tepat pukul 00:00, ku kepalkan tanganku karna begitu ragu untuk membuka pesan itu, lalu ku genggam  handphone ku dan akhirnya ku buka pesannya. Dan dia memberikan jawaban hanya dengan satu kata “Maaf”. Setelah membacanya langsung ku blokir nomornya dan ku lemparkan handphonenya. Baik semuanya sudah berkhir, semua ini akan baik-baik saja pada nantinya. Bila sekiranya hari-hari akan berlanjut dengan berat mungkin itu hal biasa pada awalnya dan hari-hari berikutnya semoga mataku dapat melihat setitik cahaya, pikranku mulai terbuka. Eh ternyata kita masih tetap bisa berjalan meskipun dengan setitik cahaya itu. Mari kita temukan beberapa cahaya lagi agar arahnya semakin jelas, sangat jelas sampai kita dapat berdamai dengan  masa lalu  dan berbahagia di masa kini hingga nanti.

Comments

Popular posts from this blog

RPP IPA Kelas 4 SD Semester 1 KTSP

Makalah Strategi Pengembangan Penilain Karakter Berbasis Penilain Otentik

DOCTOR ROMANTIC