Cerpen "Merpati yang Menyembuhkan"


Ada perasaan bingung yang nyata, aku telah lama menunggu dengan berdiri di dekat pohon kering  di tepi danau. Aku beratanya-tanya  apakah  mungkin Pei benar-benar akan mengkhianati janjinya ? Tetapi sepertinya fiarasat ku benar, mengingat matahari telah berpindah ke ufuk barat dan Pei tak kunjung datang. Ini lebih dari sekedar marah, aku begitu kecewa.  Oh yah, aku baru mengingatnya Pei hanya mengucapakan janji tapi tidak bicara untuk menepatinya, aku menggurutu dalam hati, mengepalkan kedua tanganku, mengambil kerikil kecil yang berada di dekat sepatu kets putihku, dan berakhir dengan meleparkan kerikil itu ke arah danau dengan membawa segenap amarahku kerikil itu jatuh ke dalam danau, ku buang kecewaku di tempat ini, selamat tinggal.

Segalanya berubah, ketika kau mengambil hatiku jadikan kebingungan mengelabui selalu, sepertinya aku tak begitu mencintaimu tetapi satu sisi aku begitu kecewa. Betapa ku ingin berlari jauh, tapi kenyataannya aku hanya  berlari ditempat tak berpindah sama sekali hingga tersiksa sendirian.  Terperangkap kedustaan mu yang sulit untuk keluar dari kotak perangkap ini, aku benar-benar terjebak di dalam kotak. Mengapa menjadi tak berdaya seperti ini? Aku benci situasi ini.

Langit menggelap menyiratkan luka yang mendalam, sang bulan mulai menampakkan sinarnya seakan-akan mencoba menyeka air mataku, “ Tenang saja aku akan baik-baik saja” bisikku pada angin yang berhembus nan mengibas-ngibaskan rambut pendekku.

Tapi sesaat aku berfikir kalau saja ada kesempatan untuk mengeluarkan beberapa kata sebelum kamu menghilang, aku akan berucap ” Pei aku tahu tidak mungkin jika aku memintamu untuk tidak menghampiriku jika kamu akan pergi meninggalkanku sendirian dan sangat menyedihkan, tapi setidaknya bisakah Pei kamu mengakhiri semuanya dengan tidak begitu menyakitkan seperti ini, mungkin saja aku akan lebih mudah untuk bangkit dan setelah kamu pergi, bisakah kamu menyempatkan  beralasan  sesuatu untuk  membuat  semuanya tidak lagi menyakitkan” . “Hei kenapa menjadi terisak , ayolah kamu tegar ko, “ aku berbicara pada diriku lewat cermin, seperti berbicara pada diriku yang lain, yang satu kesakikan dan yang satu lagi berusaha menyembuhkan.

Malam ini begitu panjang, aku masih terjaga hingga pada akhirnya pagi menjelang, ku berjalan menuju jedela dan membukanya secara perlahan, tiba-tiba ada merpati hinggap di pot bunga kaktus yang ku simpan diujung teras,ia  menggeleng-gelengkan kepalanya lalu ada ulat merayap ke kakinya, ia mematuknya, sejenak mematung dan bersuara “Dengarkanlah seseorang nanti akan datang bagai cemara- cemara yang rindang yang meneduhkan dan tidak jarang menghangatkan. Adapun bunga di bawah sana yang mulai bermekaran merekah tanpa sedikitpun gelisah, mereka menampakkan kecantikannya dan menawarikan kebahagian.  Mentari memberikan cahaya yang bersahaja yang menyentuh sanubari  yang memberi mu bantuan untuk keluar dari kotak perangkap”. Setelah selesai berkata tanpa melihatku , merpati pun kembali terbang mengudara.

Selaksa peristiwa yang terhitung selepas Pei pergi, benar-benar membuat pikiranku teromang-ambing, banyak sekali spekulasi yang menjatuhkan dan spekulasi yang membangunkan. Jika ada dua  kata pilihan antara memilih bahagia atau memilih menderita, pilihlah kata bahagia, tentu saja. Tapi pertanyaan selanjutnya, bagaimana caranya menjadi bahagia di kala hati sangat menderita, terus terang aku merasa menderita.


Comments

Popular posts from this blog

RPP IPA Kelas 4 SD Semester 1 KTSP

Makalah Strategi Pengembangan Penilain Karakter Berbasis Penilain Otentik

DOCTOR ROMANTIC