Cerpen "The Game of My Friend"

Keramaian siang telah hilang, berjalan menuju petang yang tenang membuat diri ini semakin hampa tanpa ada perasaan yang hadir, senyap namun penuh harap. Kepekatan yang menatap kehambaran rasa karna tidak ada perasaan yang hadir. Bergulir seperti itu, sampai ada yang sudi hadir.
“Woii  ngelamun bae, makan yok”sapa Sasa.
“Ih lho ngagetin aja sih!’’ jawabku.
“Udah deh gk usah ngambek, kenapa sih lho?
Aku pergi begitu saja cukup dengan tersenyum untuk menjawab pertanyaan Sasa. Hari sudah mulai sore, aku pulang dengan cepat karna takut kehujanan. Setiba di rumah setelah melakukan kewajibanku, tempat tidur menjadi sasaran utama untuk melanjutkan lamunanku tadi. Lagu “Menyimpan rasa” dari Devano menemani kepiluanku saat ini, suara jarum jam mulai terdengar karna suasana rumah sudah sepi,  ibuku mungkin sedang bermimpi. Tapi rasa ngantukku tak kunjung datang. Besok siang aku akan ikut sodaraku sekaligus temanku pergi piknik ke pantai. Kami berangkat menggunakan sepeda motor. Sasa sama kakaknya, sedangkan aku bingung mau nebeng ke siapa?
“Udah ikut sama kak Gani aja” kata mamah Sasa.
Malu sih, tapi mau gimana lagi aku ingin ikut piknik. Aku pasang wajah memelas ketika berjalan menuju sepeda motor kak Gani padahal dalam hati kebahagian sangat menggebu, gakpapa biar tak terlihat jelas. Tak ada obrolan yang terucap meskipun sudah melaju setengah perjalanan. Aku kikuk banget karna sedari dulu aku suka banget sama kak Gani. Bingung harus mulai obrolan darimana, haruskan aku bertanya tentang kabarnya? Ah kan sudah keliatan dia tampak baik-baik saja. Ya sudahlah aku memberanikan diri.
“Kak masih satu pesantren sama kakaknya Sasa?” kulontarkan dengan nada terpatah-patah.
“Nggak de, Si Rafa mah udah pindah kalau kuliah masih satu kampus”jawabnya.
Obrolan berlanjut dengan beberapa pertanyaan lalu kembali lagi membisu. Tak kusangka dia begitu pendiam sekali. Track perjalanan mulai menantang. Aku tak berani berpegangan walaupun hanya sekedar memegang jaketnya. Gila, jalannya menakutkan sekali aku berpegangan ke trail belakang motor kaya orang udik deh pokonya. Dan parahnya dia pun tidak nyuruh pegangan mungkin bukan mukhrim, aku juga ngerti tapi setidaknya gakpapa megang jaketnya. Oke aku turun, karna jalanan parah banget rusaknya dan jalan dulu sebentar . Aku kembali menaiki motor dengan rasa kesal banget karna Si Sasa ninggalin aku dan dia sudah duluan sampai dipantai.
Suara deburan ombak mulai terdengar dan akhirnya kami sampai dipantai. Wah indah sekali  laut nya ku pandangi beberapa detik dengan wajah berseri-seri, setelah kusadar tepat yang ku pandangi tersebut bukan hanya lautnya saja tapi ada seseorang juga disana yang sedang asyik bermain air, begitu wajahnya terbasahi air lalu menolehku dengan senyuman. “ Astagfirulloh" aku pun tertunduk. kenapa berdegup dengan cepatnya. Aku mencoba mengabaikan perasaan itu, kemudian mengajak Sasa mencari spot yang indah untuk berpose. Tidak kerasa hari mulai gelap, kami langsung pergi ke penginapan. “Malam yang menyenangkan”, ucapku di dalam hati. Aku sama Sasa menyiapkan ayam buat di bakar sementara kakaknya Sasa nge unboxing perbekalan kami dan kak Gani menyiapkan kayu bakar.
“Eh ini bumbunya gimana ketinggalan guys! Gani tolong beli dulu bumbunya. Misya kamu antar Gani ya! Dia gak bakalan tahu soal bumbu” ujar kakaknya Sasa.
Aku dan kak Gani pun berlalu. Tiba-tiba motor Kak Gani bensinnya habis.
“Aduh Mis gimana nih?”ucap kak Gani
“Kita coba cari tukang bensin aja kak, motornya titipkan diwarung kopi sana” telunjukku menunjukan keberadaan warung kopi.
“Daripada kita dorong-dorong motornya berat kak bakalan cape”lanjutku.
“Ide bagus tuh mis, ayo!”jawabnya.
Kak Gani menyuruh ku tunggu diwarung kopi sementara dia nyari tukang bensin, tapi aku menolaknya. Aku berjalan berdampingan dengannya, sesekali aku menoleh wajahnya meskipun kegelapan menyamarkan penglihatanku. Kak Gani mulai melontarkan pertanyaan dan berlanjut hingga menjadi obrolan panjang yang melengkapi perjalanan kami. Sering ku tertawa dengan beberapa candaannya. Ternyata dugaanku salah, kalau sudah akrab, dia tidak begitu pendiam. Tak ku sangka ternyata dia sangat suka banget sama sunset kebetulan minggu depan tayang perdana film magic hour, dia mengajaku untuk pergi ke bioskop. Inilah yang disebut kebahagian yang datang secara tiba-tiba. Seringku tersenyum geli karna mengingat akan pergi ke bioskop bersamanya, untung saja kegelapan tidak memperlihatkan senyumanku. Mataku terus mencari-cari tukang bensin, dan hup itu dia. Kita langsung membeli bensin dan bumbu karna ada toko sembako juga disana. Lalu kami kembali pulang.
Pagi yang cerah kami berencana untuk pulang sekarang. Rasa lelah piknik ku terkikis karna ada kebahagian di hati ini. Mama mengetuk pintu kamarku.
“Udah siap dek?”
“Udah ma, bentar..”
Mama mengajakku pergi ke rumah nenek untuk menginap. Padahal aku kan mau nonton bareng sama kak Gani. Mau menolak ajakan Mama, kasihan dia sendirian. Kalo ikut. hilang satu kesempatan untuk melihat kak Gani. Aku bingung banget, mungkin ini yang dinamakan konflik batin. Dan pada akhirnya aku memilih Mama dengan alasan mungkin ini yang terbaik dan yakin  akan datang lagi kesempatan yang lebih tepat. Ada sedikit rasa kecewa dengan waktu tapi terobati setelah aku tiba dirumah Nenek.
“Apa kabar cucu nenek,? kamu sekarang tinggi sekali” sapa nenek dengan wajah sumbringah.
Kuperhatikan wajah nya yang semakin menua, badannya yang terlihat kurus. Aku memeluknya. "Nenek aku kangen sekali sama nenek". Sudah lama tak bersua dan sekarang kami banyak mengeluarkan suara bertukar kata untuk menyampaikan rasa. Nenek sudah menyiapkan makanan kesukaanku yaitu puding labu kuning, aku sangat sanggup menghabiskannya satu  loyang besar puding ini dalam waktu 24 jam karna memang enak banget. Keesokan harinya puding itu memang benar habis,  tepat setelah sendok terakhir, aku  dan mama pamit pulang. Setiba dirumah, aku sangat kelelahan sekali dan pergi ke kamar untuk istirahat, baru saja ku lentangkan badan ini, Sasa datang mengganguku dia bilang mau pergi nonton sama kak Gani dan minta aku buat dandanin dia. Semb.ari merangkak ke kamar mandi, aku berfikir keras jadi kak Gani ini gimana? Sumpah gak ngerti. Aku menghampiri Sasa dengan kepala yang penuh tanda tanya lalu mulai mendandaninya, aku tak berkata apapun atau hanya sekedar bertanya kenapa dia mau nonton sama kak Gani, sama sekali enggak, aku hanya terdiam.
“Sudah selesai Sa”, lalu aku berbaring kembali ke tempat tidur.
“Makasih sayang, aku pergi dulu ya” Sasa berlalu dengan wajah berseri-seri.
Ih apaan ini, aku terbangun lagi dan langsung membuka jendela untuk mengintip Sasa. Tidak lama dari situ kak Gani datang menjemput Sasa lalu Sasa menaiki motornya dan berlalu. Ini benar-benar memusingkan, Sasa tahu aku suka sama kak Gani, dia juga yang selalu menggoda ku untuk mendekati kak Gani terlebih dahulu tapi aku menolaknya untuk mempertahankan harga diriku. Tapi sekarang, dia jalan bareng sama kak Gani, apa maksudnya ini, ah sudahlah sekeras apapun aku berfikir aku tetap tidak tahu logikanya main dimana. Ada rasa kecewa yang meraba jiwa padahal belum memiliki, ini parah banget. Didapur terdengar ada yang sedang bercakap-cakap, mama sedang berbicara dengan siapa aku bicara sendiri sambil menuruni anak tangga, ternyata ada mama Sasa yang sedang mengobrol sama mama.
“Eh Misya sini, nak”. Tegur mama Sasa.
Aku menghampirinya, dia membawa kabar bahagia seharusnya, tetapi bagiku itu kabar mengecewakkan, Sasa mau tunangan besok sama kak Gani, aku dan mama di undang  untuk datang, katanya. Aku pura-pura berekspresi bahagia dan basa-basi sedikit lalu kembali ke  kamar. Hujan tiba-tiba turun di hari yang sedang terik-teriknya, entah kenapa. Aku duduk memandangi setangkai bunga sedap malam yang tersimpan diatas meja warna putih yang terletak di sudut kanan kamarku.
“Hey bunga, aku benar-benar kecewa sama Sasa, kenapa hal sebesar ini dia tidak bercerita sama sekali sama aku, terlebih dia tidak bilang kalau dia ada hubungan dengan kak Gani padahal selama ini aku ceritakan tentang betapa aku menyukai kak Gani sama kamu Sa,, Sasa kamu membuatku tampak buruk, tampak bodoh, kenapa aku begitu polos tak memahami situasi kalau ternyata kamu ada hubungan sama kak Gani lalu kenapa saat pergi ke pantai kamu membiarkan berboncengan dengan calon tunangan mu, semuanya tidak dapat di mengerti, sekali lagi aku bear-benar kecewa”.
            Keesokan harinya aku memaksakan diri untuk pergi ke acara tunangan Sasa, aku berdandan seadanya karna bagaimanapun juga hatiku sedang sakit dan itu sangat berpengaruh besar terhadap perilaku ku. Aku gandeng mama lalu memasuki ruangan, terlihat Sasa sedang mengobrol dengan teman sekelas kami, lalu dia menghampiriku.
“Terimakasih sudah datang”. Kata Sasa.
Aku mengangguk dan berusaha untuk menyunggingkan sebuah senyuman. Alih-alih menjelaskan apa yang terjadi Sasa bersikap seakan-akan tidak ada yang terjadi. Aku tidak berharap banyak mau menjelaskan ataupun tidak terserah dia sekarang aku sudah merasa bodoamat dan aku juga sangat sadar diri saat mama Sasa memberi kabar kalau Sasa akan tunangan dengan kak Gani, aku memutuskan untuk berhenti menyukainya. Ini baru rasa suka jadi sangat mudah untuk membuangnya. Tidak lama dari situ kak Gani datang bersama keluarganya, acara pun di mulai, mc sudah memainkan kata untuk mengatur acara. Tiba saatnya segmen kak Gani dipanggil ke atas panggung, aku memalingkan wajah. Sekarang pasti saatnya Sasa yang di panggil ke panggung.
“Kepada calon mempelai perempuan di persilahkan naik ke atas panggung, nonaaaaa Misyaaaa”.
Aku tersentak, tiba-tiba Sasa datang dari belakang dan menggandengku untuk naik keatas panggung. Terlihat mama sudah duduk di kursi depan, pantesan aku cari-cari gak ketemu.
“Ayo sayang” kata Sasa.
“Ih apaan ini katanya kamu yang mau tunangan”, tanyaku sambil mengerutkan kening.
“Sudahlah nanti aku jelaskan semuanya”, jawabnya.
Dia tersenyum menjengkelkan, ingin sekali aku mengacak-ngacak rambutnya, menyebalkan sekali dia menjebakku, tapi bahagia sih tapi tetap semua orang dekat bersekongkol dalam acara ini, mama, mamanya Sasa pake pura-pura ngundang segala, teman-temanku yang sama temannya Sasa juga sih, ah pokonya semuanya, menyebalkan.

Aku berusaha untuk fokus ke acaranya dulu, baru nanti setelah selesai acara, lihat saja kamu Sa. Acara pun berjalan lancar sesuai dengan rencana dan harapan Sasa. Terimakasih teman paling menyebalkan, tapi paling ku sayang. Kamu berhasil Sa.


Comments

Popular posts from this blog

RPP IPA Kelas 4 SD Semester 1 KTSP

Makalah Strategi Pengembangan Penilain Karakter Berbasis Penilain Otentik

DOCTOR ROMANTIC