"Please Say Goodbye" Part 1




Senja yang bersahaja perlahan berlalu pergi, kini hatiku tlah diisi keikhlasan. Selamat tinggal!!

Kamu tahu, aku telah mengingatmu selama 72 jam. Enggak cape emang? Kalau ada pertanyaan seperti itu, siapa orangnya? Apa mereka belum pernah merindu? Sayang sekali. Sore ini sedang hujan. Banyak yang mengatakan hujan identik sekali dengan kenangan, how about you? Kalau aku setuju, pernyataan itu memang mewakilkan perasaanku saat ini yang sedang raindu, ehehe. Btw ini sudah kesekian kalinya aku ditinggalkan, sudah berulang kali pula aku mengucapkan kata-kata perpisahan, bahkan terlalu banyak, sedih memang tapi aku tetap bertahan karna Reza meyakinkanku dan aku percaya padanya.
Hujan masih belum reda, begitupun rinduku. Aku ingat ketika cerita kita dimulai dengan....
Aku sedang menonton tv bersama ayah, sementara ibuku sedang mengantar adik ke sekolah. Tiba-tiba ayah ngomong...
“ Tara ada yang mau kenalan sama kamu? ”
“ Apaan sih yah jangan becanda, seru nihh sinetron Samudra Cinta ”Jawabku.
“ Ih ni anak, ayah serius ada yang ngomong sama ayah dia katanya suka sama kamu”.
Aku menoleh ayah sebentar “ Hmm?” ( sambil kening ku mengerut).
“Iya, namanya Reza dia sekomplek sama kita katanya suka sama kamu, boleh gak ayah kasih nomor kamu sama dia? ”.
“Siapa yah? Reza? Sekomplek? Tapi kok aku gk kenal”.
“Iya iya, jadi gimana?” ayah nanya lagi.
Dalam hati aku bicara “Wah gentle bgt nih cowok minta nomor cewek langsung sama ayahnya mana bilang suka lagi, siapa sih orangnya jadi penasaran”. Aku malu mau bilang boleh kasih yah, duh gimana ya.
“Emm boleh yah” Sambil berlalu ke dapur, ku kira bicara ku agak cepat, kedenger gak ya sama ayah, aku sembunyi di belakang tembok. Tapi kok ayah belum jawab “Oke ayah kasih”. emm kayaknya gk kedenger deh, aku kan malu bilang iya sama ayah, yaudah deh gakpapa bukan milik kali.
            Pagi disini memang selalu dingin, ku berjalan menyusuri rumah-rumah berwarna hijau dengan pepohonan yang menjulang tinggi, ada pula para tentara-tentara yang sedang berlatih dengan menggunakan baju warna hijau yang menyegarkan mata, eitss maksudku semua pemandangan ini sangat menyegarkan mata. Hampir tiap hari jalan ini kulaului dan aku tak pernah bosen dengan warna hijau-hijau ini karna aku ingat kalau kita sering lihat pemandangan berwarna hijau, itu dapat membuat lensa dan kornea mata berkerja lebih santai. Ini karena secara psikologis, warna hijau pada alam dapat memberikan respon alami pada otak, hingga memberikan efek ketaenangan. Okay, awal yang baik sebelum berada di suanan kota dikampus nanti. Langkahku terhenti di halte komplek dan pas sekali mang angkot datang, aku masuk dan duduk dipaling belakang ku pasangkan earphone lalu kunikmati perjalananku. Di perjalanan, laguku terhenti ternyata ada pesan whatsapp masuk. (Hay Tara, aku Reza mau bilang terimakasih untuk nomernya, akhirnya aku bisa menyapamu dan terimakasih pula sudah meluangkan waktu untuk hanya sekedar membaca pesanku ini, tapi kalau bisa menambah lagi waktunya tolong balas yak .hehe). Itu isi pesannya dan diakhiri emot dengan pipi merah gitu, tentara juga bisa gitu ya, aku tersenyum. Nanti ah balasnya mau agak jami-jaim dulu yakan, haha pandangan ku kembali ke semula. Sesampainya dikampus, pemandangannya tak lagi hijau-hijau melainkan warna-warni iya banyak mahasiswa  menggunakan warna yang berbeda dari warna yang soft sampai yang bold, tidak hanya baju, sepatu, tas, hijab bahkan lipstik pun berbeda-beda, hmm tetap harus menggambil postifnya keberagaman itu indah, udah cukup. Sekitar jam 2 sorean aku balas pesan yg tadi aku pending dulu.
(Eh hay, iya sama-sama . ehehe) ku klik send. Udah tuh, kita akhirnya chattingan. Ketika sepulang dari kampus dia nunggu aku di halte, aku turun dari angkot terus dia bilang katanya mau nganterin aku jalan ke rumah, aku menggangguk. Sambil berjalan, dia memperkenalkan dirinya, aku tidak banyak berbicara hanya lebih mendengarkan dia dan merespon dengan beberapa kata, karna aku yakin setidaknya dia bakalan tahu sedikit tentang aku dari ayah. Sesampainya didepan rumah, aku pamitan masuk tanpa nawarin dia mau mampir atau enggak, aku masih belum menanggapinya lebih.  Hari-hari pun berlanjut dengan dia yang terus menghubungiku setiap hari dan menunggu dihalte setiap aku pulang dari kampus. Hingga akhirnya dia bisa membuatku mulai menanggapinya, dan kitapun sudah mulai akrab.
            Sekarang hari Minggu, seperti biasa aku suka jogging disekitar komplek, “hmm segernya hembusan angin yang dingin ini”, gunamku. Aku melihat disebrang jalan ada nenek-nenek sedang berjalan yang nampaknya sangat kesusahan sekali, aku berniat menghampirinya, eh tiba-tiba ada Reza yang duluan menghampiri nenek itu. Ku hentikan langkahku, nampaknya Reza sedang berbincang dengan nenek itu lalu menelpon, tidak lama kemudian datang temannya membawa mobil dan nenek itu dinaikan kedalam mobil dan berlalu pergi. Syukur deh mungkin Reza sedang menolong nenek itu, ku lanjutkan joggingku dengan rasa penasaran apa yang terjadi dengan nenek itu, aku mau bertanya kepada Reza dengan menelponnya, tapi kuurungan niatku. Minggu malam ini entah kenapa aku ingin mandi dingin-dingin juga, biasanya gak kuat mandi malam, dingin banget cuy cuaca disini suara angin yg berhembuspun terdengar seperti deburan ombak, menurutku, hehe tapi sekarang pengen aja gitu karna abis beresin kamar. Pas lagi ganti baju terdengar Reza dateng ke rumah, Oh iya lupa Reza kan bilang mau ke rumah mau bilang ke Ayah kalau dia mau hubungan kita serius, dan waktu itu aku menyetujui keputusan Reza menemui ayah. Kenapa aku bisa lupa hal sepenting ini, aku langsung siap-siap dan turun ke bawah menemui ayah dan Reza, setelah itu kami mengobrol dengan serius bagiku ini seperti sidang isbat, haha. Dan akhirnya timbulah kesimpulan bahwa dia kan melamarku tapi setelah dia pulang tugas dari Luar kota, katanya aku harus menunggu sekitar 10 bulanan, aku ragu sih tapi bissmillah aku akan menunggumu dan mari kita jalani saja dulu. Tetapi keraguanku bertambah setelah dia bilang kalau dia ditugaskan diperbatasan Indonesia-Malaysia, dan dia menjelaskan situasinya kalau disana susah sekali sinyal, mungkin dia bakal jarang mengabariku, terlebih lagi yang paling menyesakkan dia bilang bahwa keadaan disana tidak sama kayak disini, iya mungkin dia bakal pulang tanpa atau masih bernyawa. Tak terduga air mataku jatuh, dan itu terjadi begitu saja. Setelah dia menjelaskan situasinya dia berusaha pula meyakinku, dan akupun teryakinkan tapi tetap saja ini malam yang begitu sendu, aku sangat sedih besok pagi dia berangkat pergi, aku mengucapkan beberapa kata perpisahan dia pun begitu, bye.


           






Comments

Popular posts from this blog

RPP IPA Kelas 4 SD Semester 1 KTSP

Makalah Strategi Pengembangan Penilain Karakter Berbasis Penilain Otentik

DOCTOR ROMANTIC