Naluri Januari Pernah aku melirih sampai akhir pagi, tapi untuk sekarang itu bodoh. Hangatnya mentari pagi sampai merasuk hati, berjanji sampai diingkari, menanti sampai enggan pergi, berhari-hari tak berhenti, intuisi berkata sadarlah. “bruggggg” suara kardus terjatuh menghaburkan lamunanku. Aku turun melewati anak tangga, ku lihat ada kucing hitam dimeja. “hmm ternyata kau pelakunya, hussss pergi”. Eh ternyata si kucing hanya dianggap iklan, ku kembali kelamunan yang tadi, perlahan menaiki anak tangga lalu duduk kembali diatap rumah untuk maratap. Hingga tiba saatnya bukan lagi hangat yang terasa tetapi sengatan panas dari sang mentari menyentuhku. Hari demi hari kulalui dengan rasa penyelasan. Kini aku menjadi sangat kusut, kata mama. Banyak pertanyaan yang terlontarkan dari sang bidadari, mama. Tapi aku tak bisa berkata, aku menjawabnya dengan telepati semoga mama mengerti, so damn. Beberapa hari kemudian teman baikku datang ke rumah mengajak jalan keluar. ...